Bertanya karena penasaran VS mencari nilai


    Kurikulum yang diterapkan di Indonesia pasti berkembang dari tahun ke tahun. dan kurikulum yang diterapkan tersebut pastinya tidak luput dari beragam kelebihan dan kekurangan. Didukung dengan efek globalisasi saat ini juga mempengaruhi kurikulum dan cara belajar pada pelajar.

    Keresahan saya adalah menenai kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya sudah tergeser fungsinya. Ilmu tidak lagi penting dalam proses belajar mengajar, karena sistem mengajar yang dianggap membosankan.

    Kurikulum yang saat ini berlaku di Indonesia yakni K-13 yang menuntut siswanya lebih aktif. Namun penerapannya masih kurang maksimal. Setiap minggu beberapa anak diharuskan presentasi guna memaparkan materi yang telah mereka rangkum. Kemudian setelah pemaparan dibuka sesi tanya jawab.

    Nahh, disinilah letak keresahan saya. Ketika sesi tanya jawab ada beberapa tipe yang bisa disebut kecurangan yaitu,

1.     Siswa yang menanyakan kembali materi yang sudah di jelaskan.

Artinya selama proses presentasi siswa tersebut tidak mendengarkan pemapar materi, kemudian bertanya hanya untuk kepentingan MENCARI NILAI HARIAN

2.    Siswa yang pertanyaannya kurang bermutu.

Ada alasan kenapa saya menyebut pertanyaan tersebut kurang bermutu, sebab pertanyaan yang dilontarkan oleh siswa tersebut dapat dicari sendiri jawabannya. Contoh pertanyaan yang bersifat kurang bermutu adalah pertanyaan yang menanyakan mengenai definisi, ciri-ciri, sebab akibat dan lain-lain.

3.    Siswa yang sudah menyiapkan pertanyaan beserta jawabannya kepada pemapar materi.

Nah, ini juga sering terjadi, kenapa siswa melakukan hal ini? Jawabannya sudah pasti proses ini disebut simbiosis mutualisme. Sebab sang audience dapat bertanya dan mendapat nilai sedangkan si pemapar materi dapat menjawab pertanyaan dengan lancar.

 

Dengan adanya 3 kecurangan tersebut, tentu saja ada pihak yang dirugikan, yaitu siswa yang benar-benar serius ingin mendapatkan ilmu.

Terbayang tidak? Dalam suatu sesi tanya jawab yang telah dibatasi slot untuk bertanya. Semua slot sudah terisi dengan pertanyaan seperti 3 jenis yang sudah saya jelaskan diatas. Maka siswa yang benar benar tidak paham dengan materi atau siswa yang memiliki pertanyaan krusial tidak dapat menanyakan apa yang mereka tidak mengerti. Dan tentu saja jawabannya tidak dapat mereka temukan di Internet. Karena siswa yang seperti ini biasanya melakukan research terlebih dahulu, apabila data yang mereka cari tidak ada barulah mereka tanyakan kepada pemapar materi.

Lalu apa dampak negative 3 kecurangan diatas bagi pemapar materi?

Tentu saja pemapar materi akan sulit berkembang, karena pertanyaan yang mereka terima juga sebenarnya pertanyaan yang tidak berkembang.

Sudah saatnya tenaga pengajar melek dengan hal ini. Atau lebih mengasah bagaimana cara berpikir kritis kepada siswa siswanya. Sehingga dapat berdampak kepada mindset siswa, bahwa banyak sekali jawaban yang tidak bisa di temukan di dalam internet dan sudah seharusnya siswa diajarkan cara diskusi yang baik agar memudahkan langkahnya ketika menginjak bangku Perguruan tinggi.

ADIL ATAU TIDAK?

KITA TIDAK PAHAM DENGAN MATERINYA TAPI TIDAK BISA BERTANYA KARENA SLOT BERTANYA SUDAH TERISI PENUH DENGAN ORANG YANG CARI NILAI.

 


2 Comments

  1. Sangat setuju, masih banyak diluaran sana peserta didik yang hanya mementingkan nilai ketimbang ilmunya. Dan seringnya guru jadi susah membedakan murid yang benar-benar tidak paham dengan murid-murid yang sekedar mencari nilai :(
    Saya ingin bertanya, bagaiamana caranya guru membedakan peserta didik yang seperti pembahasan diatas?
    Sebelumnya terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloo Akari Hoshi Terimakasih sudah berkunjung :)
      Cara membedakan peserta didik seperti pembahasan di atas, saya rasa masih sulit dicari batasannya. Akan tetapi yang jelas peserta didik yang tergolong dalam kategori di atas rasa ingin tahunya rendah, sehingga bisa anda pancing dengan pertanyaan "Kenapa kamu menanyakan itu?". Dari situ pula peserta didik dapat belajar apa esensi dari pertanyaan mereka.

      Hapus