Perasaan
kemarin baru aja awal tahun, nggak kerasa udah bulan Agustus aja nih. Sudah
tiba saatnya pejuang-pejuang PTN menunjukan taringnya. Karena aku salah satu
orang yang hidup lempeng dan gak punya ambisi daftar PTN, banyak sekali
pertanyaan yang berputar di kepalaku nih.
Kenapa
sih orang pada ngincer kuliah di PTN?
Apa
sih alasan Universitas yang mereka incar itu jadi Favorit?
Apa tujuan mereka kalau nanti udah di terima di
Universitas itu?
Emang apa bedanya belajar di Universitas ini
dan itu?
Lalu
muncul beberapa jawaban default yang biasa diserukan orang-orang, yaitu mau
banggain orang tua, biar nanti bisa kerja di tempat yang bonafit, channel-nya
luas, dan jawaban yang terbaik dari yang terbaik adalaaaahh G E N G S I .
Lalu
muncul lagi sebuah pertanyaan “Kenapa sih orang malu dan gengsi kalo berkuliah
di PTS?”
Sudah
jelas, alasannya adalah stereotype. Because I am a rare species, not a stereotype, aku coba tenang dan mikir
lebih sering lagi. Ada kemungkinan angka 6 jadi angka 9 kalo dilihat dari sisi
yang berbeda dengan cara membuka diskusi kecil lewat Whatsapp story.
Skipp
dulu >>>
Beberapa
minggu belakangan ini mata ku iritasi dan kukira itu cuman kelilipan biasa,
jadi aku biarin aja. Semakin lama rasa sakit di mataku itu gak bisa ditahan
lagi, dan aku putuskan untuk periksa ke Puskesmas. Ternyata alat dan fasilitas
di puskesmas nggak memadahi untuk memeriksa mataku. Akhirnya dokter di
puskesmas itu nyaranin buat rujuk ke rumah sakit. Setelah dapat surat rujuk,
langsung cuss ke rumah sakit yang dimaksud. Singkat cerita, namaku udah
dipanggil dan harus masuk ke ruangan poli mata untuk sesi konsultasi. Aku ceritain
semua keluhannya apa. Terus salah satu perawat akhirnya nganter aku ke salah
satu alat, yaa semacem kaca pembesar gitu. Mata ku di periksa dan benar ada
sesuatu di dalam sana. Dengan fasilitas rumah sakit tersebut akhirnya bisa menyelesaikan
penderitaanku selama ini.
Q : Terus
jeng, hubungannya apa sama pembahasan??
Tenang,
anggap saja itu sebagai analogi.
Kata
kuncinya di sini adalah Fasilitas.
Q :
Buat apa sih kuliah?
A :
Mencari ilmu.
Rasanya
sedikit engap dengan jawaban “Mencari ilmu” karena pada realitanya ilmu bisa
darimana saja sumbernya, kenyataan bahwa mahasiswa mengerjakan tugasnya juga
hasil copy paste dari mbah google. Lalu apa bedanya dengan yang nggak kuliah?
Aku
memandang kegiatan kuliah itu sebagai wadah, lingkungan, dan fasilitas. Orang
yang berkuliah punya akses untuk mendukung keingintahuannya terhadap suatu hal.
Misalnya laboratorium, studio dan lain-lain. Contohnya semua orang bisa
mempelajari ilmu informatika dengan otodidak. Namun seseorang yang tidak
berkuliah mungkin akan lebih sulit mempelajari bagian yang lebih spesifik
misalnya, Artificial Intellegence, teknik enkripsi dan istilah-istilah keren
lainya.
Nah
hubungan Rumah sakit dengan Universitas apa sih??
Q :
Kenapa repot-repot berobat ke Singapore padahal kan di Indonesia ada Rumah
sakit juga?
A :
Fasilitas atau alat di RS Indonesia tidak memadahi.
Sama
halnya dengan Universitas. Mungkin alasan beberapa orang yang sedang
menjelajahi dan menjajal berbagai PTN adalah fasilitasnya.
Seperti jawaban salah satu temanku ini :
Kepuasan?
Kata kepuasan itu mungkin cenderung ambigu. Tapi aku artikan kepuasan dia
itu adalah ‘kepuasan akan ilmu pengetahuan’. Anggap saja dia tidak bisa dapat fasilitas tertentu di UGM dan ITB, kemudian berharap mendapatkan fasilitas yang diinginkan tersebut di UI.
Q :
Apa kampus ternama bisa menjamin kualitas kognitif dan Integritas mahasiswanya
ya?
Ya itu sebenarnya balik ke
pribadi masing masing sih. Fokus di pendidikan era 4.0, bukan lagi mengenai apa yang dipelajari, melainkan
bagaimana caranya belajar. Makanya kalo kuliah jangan berkutat pada
what dan how tapi juga why dan why not.






0 Comments