“Life is like a wheel. Sooner or later, it always come around to where
you started again.”
Dalam hidup kadang kita berada di atas
dan kadang berada di bawah. Saat berada di bawah rasanya semua menjadi sulit,
seolah olah kita kehilangan semuanya. Kekuatan, kesabaran, kegigihan,
kesehatan. Dan dimasa sulit, lumrah
sekali rasanya kita memiliki kelemahan. Merasa hal itu sangat mengganggu,
sangat merugikan. Contohnya di tengah kegiatan, migrain selalu menyerang dan
tiap kali datang menyusahkan orang-orang di sekitarku. Kata “penyakitan” rasanya
berkali-kali berdengung di telingaku. Mempunyai kelemahan sangat menyedihkan
bukan?
Tapi kata orang, dengan kelemahan ini
aku jadi punya tempat spesial. Ya, aku tidak diijinkan melakukan pekerjaan
berat. Mereka iri aku berdiam diri saat mereka semua bersusah payah. Itu kan
privilege?
Kasusnya sama dengan orang yang ngaku mental illness untuk membenarkan perilaku tidak benarnya kepada orang lain.
Sama
halnya dengan kemiskinan.
Kemiskinan adalah keadaan saat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar,
ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. (Sumber : Wikipedia)
Ketidakmampuan adalah kelemahan bukan?
Apalagi di masa pandemi sekarang ini,
banyak masyarakat yang ekonominya terdampak oleh pandemi Covid-19. Bisa bayangkan
bagaimana nasib pendapatan ibu kantin pasca ditutupnya sekolah selama pandemi
covid 19? Ribuan bahkan lebih pekerja yang di-PHK karena pemangkasan
pengeluaran perusahaan.
Di tengah gonjang-ganjing krisis
ekonomi ini pemerintah bertindak cepat untuk mengajukan bantuan kepada
masyarakat yang ekonominya terdampak oleh pandemi ini. Mulai dari bantuan
sembako, uang, dan bahkan beberapa instansi pendidikan juga meringankan beban
biayanya. Udara segar bagi masyarakat yang kesulitan bukan?
Eitsss…. Tunggu, tidak semudah itu
ferguso.
Q
= Bagaimana ya cara agar bantuan itu diterima tepat sesuai sasaran?
A
= Kan sekarang sudah ada program pemerintah untuk masyarakat yang kurang mampu,
contohnya SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Jadi yang punya SKTM
diprioritaskan.
Q
= Bagaimana menilai orang yang tepat untuk mendapatkan SKTM? Dan bagaimana
definisi kemiskinan/tidak mampu?
Tentu hal itu akan jadi daftar panjang
bukan?? Tapi kalau kamu kepo nih,
bisa cek disini untuk syarat mendapat SKTM dan definisi kemiskinan.
Banyak sekali aku menemukan orang
dengan rumah dan finansial yang bisa dikatakan berkecukupan bahkan masih bisa
nih nongki-nongki di café, beli baju di mall, dan makan di Hoka-hoka bento. Tapi
orang ini memiliki SKTM. Kenapa ya?
Hal pertama yang terpikir di kepalaku
yaitu, mungkin orang ini bikin SKTM saat hidupnya susah. Dan kebetulan sekarang
sudah mapan karena ekonomi kan bisa naik dan turun, tidak melulu stagnan. Tapi,
kalau kamu pikir-pikir lagi nih. Orang yang
hidupnya sudah berkecukupan apakah boleh
ya tetap menggunakan SKTM-nya?
Sifat manusia yang tidak pernah merasa
cukup rasanya jadi pembenaran banyaknya kasus dana bantuan yang salah sasaran. Ada
badan yang lagi bagi-bagi sembako, ikut. Ada yang memberi potongan harga untuk
pendidikan, ikut.
Q
= Kenapa sih kamu ndaftar bantuan juga? Padahal kan kamu masih mampu.
A
= Daftar aja sih, nanti kalo dapet kan
lumayan. Bisa mengurangi beban.
Hey bambang, bantuan tujuannya untuk
orang yang kesulitan ya. Bukan untuk iseng-iseng berhadiah. Jangan samakan
bantuan sama giveaway. Kalau hidupmu sudah merasa berkecukupan, pikirkan orang
lain yang kurang mampu yang mungkin lebih butuh bantuan itu dibanding kamu. Biasakan
melihat kebawah.
Punya hidup struggle kadang juga patut
dibangga-banggakan ketika seseorang sudah sukses. Misalnya : “Dulu tuh aku
makan mi instan setiap hari saking gaada duitnya.” Lebih wow kan? Orang yang
dulu makan mi instan setiap hari akan lebih diberi respect ketika sukses
daripada orang yang dari kecil sudah sultan.
Secara tidak langsung, ketidakmampuan
ini kan jadi privilege buat dapat uang lebih (bagi orang yang tidak bertanggung
jawab). Yaah kalau dipikir-pikir siapa sih yang nggak mau diskon? Mungkin anggapan
oknum ini, mengaku miskin mungkin bisa mendapat diskon untuk keperluan
hidupnya. Sayangnya Kopi janji jiwa belum bisa nih kasi diskon bagi pemilik
SKTM supaya bisa terlihat edgy dengan
harga terjangkau, hehe bercanda.
Membantu orang lain tidak harus kaya, tidak harus punya uang lebih. Kalau kamu nggak punya apapun untuk diberikan ke orang lain, kamu tetap bisa membantu kok. Cukup sisihkan tempat bagi orang yang benar-benar membutuhkan supaya mereka hidupnya lebih terbantu dan hidup berdampingan dengan kita.



0 Comments