#sok_tau!
#sok_tau!
  • Home
  • About
  • Random Features

#guruBK

Budaya

Psikologi

 

Setelah selesai mengurusi drama pemberkasan aku putuskan buat certain apa-apa aja drama yang aku lewati selama skripsi. Untuk sekedar evaluasi dan berharap tulisan ini bisa nambah pandangan buat yang mulai nulis skripsi.

SKRIPSI….. kata itu udah jadi momok buat aku semenjak semester 5. Apalagi banyak mahasiswa ambis di sosial media yang bilang mereka menyiapkan judul mereka saat semester 5 bahkan ada yang lebih awal lagi. Apakah itu salah??? Nggak juga. Hanya saja aku ngerasa “apa iya aku harus persiapkan secepat itu juga?” dan perasaan takut lulus telat bikin aku mau nggak mau harus serius mikirin judul.

SKRIPSI adalah akumulasi dari beberapa mata kuliah (Selanjutnya akan disebut matkul) yang sudah dipelajari, Metodeologi Penelitian, Statistika (kalau penelitian kuantitatif), Pemahaman individu non-tes (kalau penelitian kualitatif), dan lain sebagainya. Padahal semenjak tengah semester 2 perkuliahan dilaksanakan online. Alhasil aku menyepelekan beberapa matkul yang penting seperti diatas.

Pembagian Dosen Pembimbing

Pembagian Dosen Pembimbing (yang selanjutnya akan disebut Dosbing) ini mungkin berbeda metodenya pada setiap universitas. Kalau ditempatku kita diberi link google form dan bisa memilih 2 Dosbing sesuka hati kita, tapi pada saat pembagian entah apa metode yang dipakai aku tetep nggak mendapatkan dosbing yang aku pilih dan nggak banyak dari temenku yang beruntung dapat dosbing yang sesuai dengan keinginan mereka.

Bagaimana caraku memilih Dosbing?

Selama perkuliahan seringkali kita berdiskusi di kelas, saling sapa dengan dosen di koridor dan mungkin aja ada yang saling follow di sosmed. Menurutku mengenali pribadi dosen itu sangat penting untuk proses bimbingan apalagi kalau mengetahui kepakaran beliau. Hal itu sangat membantu untuk pengajuan judul.

Terus apa yang dilakukan kalau Dosbing tidak sesuai keinginan?

Mungkin memang agak klise, tapi menurutku harus dijalani dulu. Selalu ada alasan kenapa kita tidak memilih dosen tersebut sebagai dosbing. Kalau aku saat itu juga bertanya-tanya “kenapa ya aku nggak memilih beliau-beliau ini?” padahal setelah bimbingan, cara beliau membimbing berbeda dengan perkuliahan di kelas.

Tapi kalau benar-benar tidak cocok dengan Dosbing yang dipilihkan?

Kalau ini mungkin alasannya sangat subjektif jadi menurutku harus ada diskusi dengan pihak2 prodi.

Pengajuan Judul

Fase ini menurutku sangat penting menentukan gimana kedepannya. Bener-bener harus punya alesan kenapa tertarik dengan topik itu, dan karena ini penelitian maka aku sebagai peneliti nggak boleh subjektif semua harus by data. Bulan November 2022 aku tertarik banget buat neliti stereotype gender dengan metode kualitatif sesimple karena aku nggak suka angka. Mulailah aku cari data di sekolah, wawancara & observasi. Inilah kesalahan yang mengawali kemacetanku saat mengerjakan skripsi. Data yang aku dapatkan ternyata nggak sesuai ekspektasi. Kalau nggak ada masalah itu kenapa harus diteliti? Tapi aku tetep kekeuh pingin neliti itu jadi aku cari di sekolah lain, tapi ternyata sama aja datanya nggak sesuai ekspektasiku. Akhirnya aku sadar kalau sebenarnya aku terlalu idealis aja dan mengada-ada. Aku nerapin pemikiranku selama sekolah dulu ke siswa sekarang yang mana udah beda jaman.

Setelah di tampar dengan ekspektasiku sendiri aku berhenti mikirin skripsi selama kurang lebih 2 bulan, dengan alasan sibuk KKN. Selama KKN ada aja yang ngerjain skripsi di posko, ini bikin aku dan beberapa temenku jadi overthinking. Akhirnya begitu kelar KKN aku langsung gas in curhat ke dosbingku tentang data yang aku dapet kemaren. Kebetulan banget kepakaran beliau ada di perlindungan perempuan dan anak jadi percakapan kami sangat nyambung. Beliau langsung membantuku merumuskan judul yang kebetulan saat itu beliau meneliti topik yang sama. Topik yang mau diteliti itu tentang Cyber Grooming. Karena topik ini masih tergolong baru dan jurnalnya nggak terlalu banyak beliau nggak segan2 berbagi jurnal dan aku sangat bersyukur. Setelah itu aku langsung di arahkan untuk segera ambil data pra-penelitian dan setelah itu judulku langsung diACC.

Sebelum lanjut ngerjain Bab 1 aku usahain untuk bikin planner target aku kelarin tiap babnya tujuannya biar aku on track dan bisa kira-kira mau wisuda dibulan apa. Malah aku punya ambisi kelarin babnya sebelum tanggal yang aku buat sendiri.

 

BAB I

Sebelum nulis latar belakang aku cari referensi sebanyak-banyaknya ke perpustakaan kampus. Untuk yang males ke perpustakaan selama kuliah, kalian harus coba ke perpus. Menurutku ini sangat membantu. Dan kalo ke perpus jangan Cuma baca2 atau foto2 skripsi kakak tingkat aja. Kalo dibaca doang ntar bakal lupa dan kalo di foto doang ntar gak bakal dibaca. Lha terus harus gimana?

Pas ke perpus wajib bawa buku dan pulpen, cari referensi yang kalian butuhkan khususnya skripsi dengan judul serupa. Kalo punyamu meneliti korelasi cari skripsi yang korelasi, begitu pula jumlah variabelnya cari yang sama. Trus tinggal diutek2 variabelnya dan dianalisis perbedaan dari skripsi yang kalian baca itu apa aja. Setelah itu langsung bikin struktur latar belakangmu sendiri.

Misalnya :

-          Pendahuluan tentang internet

-          Fenomena yang terjadi di internet yang berhubungan dengan variabel Y

-          Definisi variabel Y

-          Dampak variabel Y

Dalam penulisan latar belakang ini harus nyambung antara satu variabel dan variabel lainnya. Alhamdulilah Bab 1 bisa kelar sehari lebih cepet.

BAB II

Ngerjain Bab ini menurutku bikin ngos-ngosan si. Karena skripsiku ini ada 3 variabel dan satu variabelnya itu topik yang masih anget jadi belum banyak jurnal yang bahas itu. Syukur2 bisa dapet bukunya juga tapi basa enggres hikks :’(  

Bener- bener sambat pas bab 2 ini karena emang banyak banget, aku targetin 3 minggu buat ngerjain ini termasuk bimbingan dan revisiannya karena rencanaku ngerjain 1 variabel perminggunya tapi ternyata bisa kelar 2 minggu aja, alhamdulilah bersyukur banget aku.

BAB III

Pas ngerjain bab 3 ini aku inget lagi pertengahan puasa, otak bener-bener gabisa dipake mikir dalam keadaan panas tenggorokan kering kerontang. Jadi pas itu mutusin ngajak temen (Anna) ke perpuda buat ngadem. Di bab 3 ini aku terkendala banget sama kapasitas otakku yang pas-pasan ini. Kayak yang aku bilang tadi pas matkul metopen aku nggak begitu serius jadi bingung aja bedanya metode ini sama itu apa? Sampelnya gimana dan segudang pertanyaan lain. Mungkin temenku (Dian) dah panas aku kebanyakan nanya pas bab ini. Dan mungkin Anna dah capek ngekor aku muter sana muter sini sampe ketiduran di perpusda (So sorry). Jadi aku bener-bener hati2 milih metode dan Teknik sampling biar nanti nggak nyesel dan ribet sendiri pas penelitian. Bener2 ngang ngong padahal aku udah pernah dapet matkul ini. Jadi aku niatin buat baca2 lagi. Alhasil aku dapet metode yang cocok dan kelarin bab 3 hanya seminggu langsung ACC. Setelah itu langsung lanjut bikin intrumen penelitian karena aku pake metode kuantitatif.

Oh iyaa karena ini aku berupa layanan bimbingan klasikal jadi aku harus bikin Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling (Selanjutnya akan disebut RPL). Keinget pas ngerjain bab 2 ku kira itu uda yang paling waaahhh ternyata nggak. Selama pembuatan Skripsi sejauh ini aku selalu tidur teratur nggak pernah bela-belain begadang karena sekali begadang aku gaakan bisa tidur beberapa hari jantung auto dag dig dug derrrr. Naah pas bikin RPL ini aku bener2 nggak tidur karena harus mikirin materi gimana yang nggak mbosenin, medianya gimana, dan ice breakingnya apa T_T harus kelar banget soalnya paginya mau healing sama temen-temen ke pantai jadi nggak mau kebeban RPL yang belom kelar.

Sebelum lanjut penelitian aku harus ngurus surat ijin penelitian ke dinas yang itungannya jauh juga si.

PENELITIAN

Penelitianku itu mepet sama libur kenaikan kelas. Jadi bener-bener ngos2 an karena ada beberapa kali pertemuan. Untung ada anna yang senantiasa menemani wkwkwk. Soalnya ngerasa beruntung banget punya temen yang bisa nemeni pas lagi skripsian. Proses penelitian berjalan ngos2 an dan ugal2 an.

BAB IV - Selesai

Tiba saatnya olah data SPSS. Nyesel dulu pas matkul Statistika tidur. Alhasil nanya Dian cara olah data SPSS tapi dengan laknatnya dia malah nawarin harga joki SPSS. Tapi Cuma bercanda sih, dia mau bantu kok, tapi dengan tidak ramah, bintang 1 pokoknya wkwkwkwk. Baru kali ini semasa hidupku belajar tapi ngerasa ngang ngong. Diajarin sekali lupa, lupa, dan akhirnya aku minta link ke dia. Yang padahal banyak banget video yang ngajarin SPSS berseliweran. Karena pada dasarnya skripsiku dan dia beda jadi aku harus cari2 sendiri lagi rumus SPSS yang lainnya.

Kelar ngerjain bab 4 aku langsung gass bab 5 dan lampirannya. Dan ini yang bikin aku tercengang. Dari 211 halaman 104 nya itu cuma lampiran doang, kebayang banyaknya kayak apa T_T

Setelah kelarin semuanya aku langsung bawa buat bimbingan dan langsung ACC ditanggal 20 Juni 2023.

PRA-SIDANG

Begitu tau aku ACC besoknya aku langsung urus pendaftaran sidang yang lebih drama dari skripsinya sendiri. Ribet dah riweuh. Harus bolak balik bank dan Bagian Keuangan (Selanjutnya disebut BAUK) bolak-balik ngeprint dan ngejar dosbing buat TTD karena takut ketinggalan sidang. Dan ternyata jadwal sidangku jatuh sebulan kemudian 20 Juli. Begitu penguji 3 terlihat hilalnya aku langsung mengurus berita acara tapiii ternyata H-2 sidang penguji 3 tersebut diganti, alhasil aku harus ngeprint lagi dan minta berita acara yang baru. H-1 Sidang ternyata penguji 1 ku beliau berhalangan hadir dan diganti lagi. Aku kembali mengurus berita acara dan lembar persetujuan.

Apa yang disiapkan sebelum sidang?

PPT aja, selebihnya mental yang kuat dan hati yang ikhlas.

Jujur sebelum sidang aku menyadari banyak banget kekurangan yang ada di skripsiku. Tapi skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai 😊

SIDANG

Mungkin pelaksanaan sidang skripsi itu beda2 disetiap univ. Aku saat itu kebagian jadwal paling pagi jam 8 sampai jam 9. Sekali lagi semuanya nggak sesuai sama ekspektasiku. Kita hanya bisa merencanakan tapi Allah yang menentukan. Intinya bener2 nggak bisa di gambarkan dengan kata2 hari itu sangat chaotic. Kelar sidang aku memastikan ke dosen apa aku ini lulus? Karena memang aku bener2 nggak puas dengan hasilnya. Alhasil beliau meyakinkanku kalau aku lulus, dan tidak perlu khawatir dengan kekurangan di skripsiku karena bisa di perbaiki dengan revisi.

 

Setelah sidang malamnya aku langsung gass revisian karena takut lupa dengan bagian2 yang direvisi. Paginya langsung bimbingan dan hari-hari berikutnya mengurus berkas yudisium yang nggak kalah hecticnya dengan daftar sidang.

Yang bilang aku beruntung karena dosbing ku, aku juga bersyukur bisa dibimbing oleh beliau. Aku merasa punya privilege buat nyelesaiin skripsi dengan cepet.

Buat yang bingung ngerjain skripsi mulai dari mana, mulai dari baca2 skripsinya kakak tingkat dulu. Nanti pasti dapat gambaran kok.

Semangatt yak yang masih skripsian semoga ACC selalu hehe..

 

_bye


 

Media sosial tentu bukanlah hal yang baru lagi bagi masyarakat terlebih pada era yang serba digital ini. Berbagai hal dapat dibagikan melalui media sosial, mulai dari politik, keberagaman budaya, pendidikan, ekonomi bahkan kehidupan privat setiap penggunanya. Menurut laporan We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna internet di seluruh dunia telah mencapai 5,07 miliar orang pada Oktober 2022. Jumlah tersebut mencapai 63,45% dari populasi global yang totalnya 7,99 miliar orang. Jumlah pengguna internet global pada Oktober 2022 meningkat 3,89% dibanding periode sama tahun lalu (year-on-year/yoy), yang masih 4,88 miliar orang pada Oktober 2021. Dilansir pada sumber yang sama, sosial media yang paling banyak digunakan di indonseia yaitu Instagram dan tiktok. Pengguna Instagram di Indonesia sebanyak 84,8% dari jumlah populasi, tahun sebelumnya 86,6% (turun) kemudian Pengguna Tiktok di Indonesia sebanyak 63,1% dari jumlah populasi, tahun sebelumnya 38,7% (naik pesat). Hal ini terjadi dikarenakan maraknya influencer yang beralih dari Instagram ke tiktok.

Salah satu fitur yang ada di dalam tiktok adalah fitur live streaming, namun akhir-akhir ini muncul trend yang sangat meresahkan yaitu trend mandi lumpur. Seberapa meresahkankah trend tersebut?

Format trend ini sudah familiar di live streaming youtube maupun aplikasi lain. Semuanya dilakukan berbasis donasi. Hal inilah yang membuat semuanya terlihat tidak masalah dan tidak patut diperdebatkan. Kenapa? Karena berkedok donasi maka akan muncul asumsi bahwa tindakan tersebut dilakukan semata-mata untuk membantu live streamer dan selagi donatur ikhlas itu semua tidak masalah. Lalu apa yang membedakan antara live streaming mandi lumpur dengan live streaming lainnya?

Sebelumnya format ini sangatlah mirip dengan aplikasi sebelah Bigo live. Untuk mendapat gift yang nantinya bisa ditukar menjadi uang, live streamer harus melakukan request viewer yang biasanya berbau sensual. Namun yang membuat trend mandi lumpur ini berubah menjadi the another level of dumb adalah eksploitasi yang terjadi di dalamnya. Tak jarang live streamer mengajak orang yang sudah tua untuk tampil di depan kamera bahkan selama 24 jam. Dengan kedok “Hanya untuk hiburan” mereka memasang tarif layaknya pertunjukan sirkus. Biasanya orang memberi gift dikarenakan viewer merasa terhibur atau sebagai apresiasi. Namun dalam hal ini apakah pantas dilabeli sebagai hiburan?

Dalam hal ini pemilik akun diyakini sedang mempertontonkan kesengsaraan dimana dalam tayangan semacam itu menurut penelitian Melissa Anne dari University of Texas merupakan bentuk poverty porn. Dalam perspektif ini, fokus tayangan adalah menceritakan penderitaan kemiskinan yang dialami subjek tanpa menjelaskan faktor struktural yang dihadapinya dengan membingkai kerja keras sebagai jalan keluar kemiskinan. Bentuk pengemasan ini menonjolkan sensasionalitas dengan memantik simpati publik, tapi yang hendak dicapai hanya perhatian publik untuk klik bukan memantik diskusi publik untuk mengatasi kemiskinan. Konteks kerja keras yang ditampilkan dalam hal ini adalah orang tua yang rela masuk angin demi bisa makan.

 Trend mandi lumpur ini kembali mengingatkan aku tentang sebuah pertunjukan seorang seniman bernama Marina Abramovic. Salah satu pertunjukan yang paling terkenal yang ia lakukan bagian dari eksperimen tersebut berjudul 'Rhythm 0' tahun 1974.

Rhythm 0 adalah pertunjukan seni yang bertujuan menunjukkan bagaimana sisi gelap manusia jika mereka diberi kuasa untuk melepaskannya. Apakah kalian pernah melanggar suatu peraturan baik itu di sekolah, tempat kerja atau lingkungan tempat tinggal kalian? Ada istilah yang mengatakan "peraturan dibuat untuk dilanggar", kita tahu itu mungkin hanya guyonan namun nyatanya itu sudah menjadi kebiasaan buruk masyarakat kita, mungkin bukan hanya masyarakat kita. Marina ingin menunjukkan sisi gelap manusia dalam Rhythm 0. Bagaimana jika manusia diberi kuasa untuk melakukan apa saja tanpa sanksi?

Marina akan berdiri diam selama 6 jam dan memperbolehkan para penonton melakukan apa saja pada Marina dengan 72 benda yang sudah ia siapkan. Benda-benda tersebut terdiri dari bunga mawar, madu, roti, anggur, gunting, paku, pisau bedah sampai pistol yang memiliki satu peluru di dalamnya. Marina akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi selama periode 6 jam itu, jadi apapun yang dilakukan penonton tidak akan dikenakan sanksi.



Pada awalnya penonton dengan hati-hati menyuapi kue, memberi bunga, kemudian perlahan menulis sesuatu di kulit Marina. Namun ketika penonton sadar bahwa Marina tidak melakukan perlawanan apapun, disaat itulah keadaan mulai tidak terkendali. Penonton mulai mengambil gunting, melucuti bajunya, melukai lehernya dengan pisau cukur, ada pula yang sampai meminum darahnya, melecehkannya tapi tidak sampai memperkosanya karena penonton datang dengan membawa pasangannya hingga akhirnya penonton mulai menyodorkan pistol. Ditengah pertunjukan ini ada perempuan yang sempat menghentikan tindakan konyol penonton lainnya dengan memeluk Marina,  beberapa penonton juga mulai mengobati luka-luka di tubuh Marina. Para penonton terpecah menjadi 2 kubu, dimana ada yang menghalangi penonton lainnya untuk melakukan tindakan yang lebih parah dan ada juga yang menikmati momen ini selagi bisa.

Akhirnya 6 jam berlalu Marina kembali bergerak, namun ia tidak mengatakan sepatah kata pun sedangkan penonton yang melakukan tindakan tidak pantas terhadapnya langsung lari berhamburan karena takut di tuntut oleh Marina.

Sudahkah kamu temukan persamaan trend tiktok dengan pertunjukan yang dilakukan Marina?

Kita harus menghentikan trend ini dengan cara tidak memberi gift kepada live streamer yang melakukan tindakan itu, selain karena minimnya empati di tayangan tersebut, tetapi juga karena trend tersebut menyebabkan efek domino bagi orang yang sedang butuh cuan.

_bye

 


Akhir-akhir ini lagi banyak drama maupun movie korea yang digembar-gemborin worth it buat ditonton. Masih banyak yang nganggep kalo drama korea itu sebatas cinta-cintaan aja padahal sebenernya banyak banget genrenya. Tulisan kali ini mungkin pembahasannya agak serius soalnya semuanya datang dari keherananku yg pada nganggep kalo pelecehan seksual terjadi karena korbannya mancing.

Btw, yang mau aku bahas kali ini nggak semuanya drama sih. 1 Drama korea dan satunya lagi Movie. Judul dari dramanya Link : Eat, Love, Kill. Sesuai namanya drama ini punya beberapa genre yaitu Slice of life, komedi, romance, dan drama. Lengkapnya bisa di cek aja deh sinopsisnya atau langsung nonton aja. 


Di drama ini punya 1 Main Character perempuan yang bernama Da-Hyun ditempat kerjanya dia distalking sama salah satu cowok bernama Jin-geun. Stalking nya tu nggak cuman stalk sosmed. Tapi si Jin-geun ini ngepost foto Da-hyun di sosmed dan halu sebagai pacarnya Da-hyun, trus dia juga nguntit, ngasi hadiah-hadiah yang jatohnya kayak neror. Sampe ada masanya si Da-hyun ngelabrak ni cowok tapi tetep aja si cowok nggak tau diri. Karena suatu alesan Da-hyun ini pulang ke kampung dan tinggal di rumah ibunya. Bahkan si Da-hyun dikuntit sampe ke kampungnya loh. Nggak tanggung-tanggung dia dikejar sampe masuk rumahnya, di pukul, di lempar sama ni cowok. Dan berakhir dia nggak sadarkan diri. Begitu bangun dia kaget liat si Jin-geun udah berlumurran darah. Jadi anggepannya dia mbunuh Jin-geun secara nggak sadar. Tapi dalam keadaan sadarpun kita semua sama-sama tau klo tindakannya itu cuma buat membela diri. Jadi setelah kejadian malem itu dia nganggep dirinya sendiri seorang pembunuh. 

Main Character : Noh Da-Hyun

Trauma yang dialami Da-hyun sama ibu dan neneknya nggak main-main. Awalnya digambarkan secara nggak sengaja mereka bertiga bawa senjata semacam pentungan, sekop sama palu sehingga disebut membahayakan warga sekitar, sampe mereka dibawa ke kantor polisi. Tapi lama kelamaan ibunya Da-hyun secara sadar selalu bawa senjata buat jaga-jaga. Dan juga ada beberapa kebiasaan yang cukup bikin capek. Mereka kmana mana harus bertiga, sesimple mau jogging harus bertiga. Dan terbiasa bersembunyi pas ada mobil polisi karena udah bunuh Jin-geun.

Ketangkep bawa senjata

Akhirnya dibawa ke kantor polisi

Oke, moving on ke movienyaa. Movie ini barusan rilis sih dan dah banyak banget cuplikan-cuplikan quotesnya di sosmed. Movienya berjudul 2037. 

Genre movie ini drama, dari awal sampe akhir nunsa filmnya sedih banget, apalagi covernya punya background dalam penjara jadi kita semua tau kalo movienya nggak akan happy ending. Main Character di movie ini juga seorang perempuan bernama Yoon Young. 

Main Character : Yoon-Young

Si Yoon-young ini digambarkan masih sekolah tapi dia mutusin buat nggak sekolah karena kesulitan ekonomi dan juga dia harus ngerawat ibunya yang tuli. Meskipun tuli, ibu Yoon-young ini masih punya fisik yang cukup kuat buat kerja. Jadi ibu Yoon-young ini kerja jahit gitu, di awal film ditunjukan dia punya bos yang pengertian dan sabar menjaga ibu Yoon-young. Tapi itu semua salah. Berawal dari bosnya yang muji foto Yoon-young trus dia nerocos tentang dia yang pingin nikahin Yoon-young. Spontan ibunya Yoon-young yang tuli ini paham kalau anaknya lagi dilecehkan secara seksual sama bos nya dan langsung nampar bosnya. Scene berpindah ke tepat kerja Yoon-young di sebuah cafe. Bos nya dateng ke cafe buat beli kopi, tapi kayaknya bukan itu niat sebenernya. Dan bener aja pulang kerja di malem hari Yoon-young dikuntit sama ini bos laknat. Dan kita semua udah bisa tebak apa scene selanjutnya. Setelah selesai melecehkan Yoon-young bos ini malah ngancem Yoon-young. Kalo sampe dia lapor ibunya atau ke polisi, nyawa ibunya bakal kelar, atau setidaknya ibunya bakal dilecehkan juga. Yoon-young yang sayang banget sama ibunya secara sadar langsung nimpuk kepala bos laknat itu pake paving sampe otaknya ancur (emang punya otak?). Singkat cerita akhirnya dia masuk penjara dan didakwa 1 tahun penjara dengan tuntutan pembunuhan. Tappii ternyata dia juga hamil. Nangis bgt nggak sih?

Dari serial dan movie tadi ada banyak banget kesamaan.

Q         : Kenapa korban kekerasan seksual tidak berani melapor ?                                            

A        : Dari pengalaman Yoon-young melapor cuma akan membahayakan diri sendiri dan juga ibunya. Korban punya anggota keluarga yang akan diteror sama si pelaku. Ketika sudah melapor pun, kadang buki tidak cukup unuk menuntut pelaku, belum lagi kalo pelaku punya duit atau jabatan. Ketika berhasil dituntut pun hukuman yg diberikan nggak setimpal. Misal untuk kasus stalking/dikuntit cuman didenda, kasus pelecehan seksual cuman 1-2 tahun bahkan ada yang itungan bulan. Setelah keluar dari penjara? Bisa aja nyawa korban kembali terancam.

Q         : Kenapa korban memilih membunuh pelaku ?

A         : Selain untuk melindungi diri sendiri dan kelurga, korban juga tidak punya pandangan tentang hukum dan juga ketidakpercayaan terrhadap peradilan. Jadi yang penting orang disekitarnya aman.

Pandangan aku terhadap drama dan movie ini konflik ke-2 nya digambarkan sesuai sama stereotype yg ada. Dimana kekerasan seksual hanya terjadi ketika malam dan ketika korban memakai pakaian yg minim. Memang kesempatan pelaku beraksi dimalam hari sangatlah besar tapi tidak jarang peelecehan terjadi dimanapun dan kapanpun. Stereotype yang muncul “karena korban memakai pakaian yang minim” diperlihatkan di movie 2037 ketika si bos berkunjung ke cafe Yoon-young dan memandangi kaki Yoon-young yang memakai rok sekolah diatas lutut. Seolah-olah si bos tergoda oleh pakaian Yoon-young yang minim, padahal kita semua sama-sama tau kalau niat bos datang ke cafe sudah nggak baik, semenjak bos itu ngoceh ke ibu Yoon-young buat nikahin bos sama Yoon-young.  

Oke mungkin itu aja secuil pandangan ku tentang Drama dan Movie yang lagi sliweran di timeline ku, semoga seneng bacanya dan dapet sesuatu dari tulisanku hehe.

_bye.


2022 udah bulan kedua ajaa, tetap semangat walaupun gini-gini aja hehe. Seneng seneng aja sih soalnya gak begitu berani coba hal baru. Kalian setuju nggak sih lebih baik pandai di 1 bidang tapi bener-bener paham daripada bisa di semua bidang tapi ya cuman biasa biasa ajaa cuman ngerti basicnya doang. Atau kalian lebih suka pilihan ke 2 yaa?? :3 ya emang sih dengan belajar hal baru kita jadi lebih punya banyak referensi, jadi lebih nyambung gituu kalo diajak omong sama orang yang beda sama keilmuan kita.  Masing- masing lah yaa, ada orang yang pingin di zona nyaman mereka tapi ada juga yang pingin berpetualang cari adrenalin dengan keluar dari zona nyamannya mereka. Ngomongin soal keluar dari zona nyaman, tentunya nggak  sesimple itu dengan bermodalkan nekat kayak kata-kata motivator kebanyakan. Kalo kata aku sih kita tetep butuh planning dan juga safety network. Dalam artian kalo kita gagal itu nggak bangkrut-bangkrut banget. Sesuatu yang bisa jadi safety net ini bisa aja berupa orang tua yang kaya (yang nantinya bisa ngasih suntikan dana kalo misalnya plan A gagal), support dari lingkungan dan keluarga jadi kalo misalnya plan A gagal mental mu nggak ambyar-ambyar banget karena masih dapet support, atau mungkin bisa sekedar punya fisik yang good looking hehe. Tentunya safety network ini nggak semua orang punya yaa, itu sebabnya semua tadi bisa disebut privilege juga.

Dari beberapa hal tadi kayaknya lebih asik kalo kita bahas yang good looking deh, soalnya lagi rame nih di bahas di sosmed. Sosmed udah bukan jadi barang langka buat manusia di era ini. Dalam bersosial media sangat mungkin bagi kita buat mbandingin diri sama orang di sosmed, baik berupa fisik, ekonomi maupun sosial. Dalam permasalahan fisik, masyarakat yang sering mengagung-agungkan orang yang sesuai dengan standar kecantikan dengan celetukan “Jadi good looking itu enak yaa, semuanya jadi gampang soalnya dapet banyak support.” Misalnya pas Jefri Nichol tersandung kasus narkoba semua orang memberi support dengan memvalidasi perasaanya, memaklumi perilakunya dikarenakan ada latar belakang kenapa doi mengunakan narkoba. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan respon yang di dapatkan sama Seorang Stand Up Comedian Coki Pardede, atau penyanyi Andika miss yu band. Sebaliknya doi justru dihujat habis-habisan sama netizen. Nggak adil kan ??

Didalam suatu masyarakat pasti ada yang namanya ketidaksetaraan, dan hal yang mendasari ini datang dari berbagai aspek misalnya status ekonomi, sosial, ras, gender dan bahkan agama tertentu. Akhirnya dalam dinamika sosial yang seperti ini ada beberapa orang yang mendapat keistimewaan hanya karena doi punya kuasa lebih di aspek tertentu. Dan kalo ada orang yang merasa diuntungkan dalam suatu sistem pastinya ada juga orang yang merasa dirugikan atau diopresi. Privilege umumnya diartikan sebagai manfaat diterima orang-orang yang punya lebih banyak kekuasaan dalam masyarakat berdasarkan status atau karakteristik tertentu.

Apa sih yang mendasari seseorang ketika menilai apakah orang ini menarik atau nggak. Menurut aku ini konsep yang abstrak banget, kan penampilan itu relatif dan subjektif. Dengan anggapan seperti ini lumayan mempersulit bagi aku pribadi buat tau gimana cara orang menilai ketertarikan tersebut?

Dalam hal ini beauty standart berperan besar dalam menilai apakah orang tersebut menarik atau nggak. Nggak lupa stereotip gender juga berpegaruh terhadap ketertarikan seseorang, misalnya laki laki itu harus maskulin dan perempuan itu harusnya feminim.

Didalam berbagai aspek orang yang good looking bakal dianggep lebih bisa, lebih percaya diri, punya personality yang lebih bagus, lebih gampang cari kerja dan of course lebih gampang cari pasangan. Ini bisa jadi bener soalnya orang yang good looking cenderung diperlakukan baik sama orang sekitar sejak mereka bocil, makannya mereka bisa tumbuh baik dengan punya banyak support.

Pengaruh beauty privilege ini lebih besar dampaknya buat perempuan, soalnya perempuan masih sering diobjektifikasi. Dalam dunia kerja perempuan yang cantik bakal lebih sering di-plotting-in di garis terdepan sebagai daya tarik, contohnya jadi resepsionis, seles, bahkan cuman disuruh nampang aja pas meeting sama client biar cepet di ACC-nya. Miris kan??

Tapi ternyata privilege ini juga punya dampak negatif loh, contohnya orang ini bakal dapet ekspektasi yang lebih gede dari masyarakat, terus ketika mereka menemui sebuah masalah mereka dilarang buat ngeluh seolah-olah masih banyak orang yang nggak punya kesempatan se-gede doi. Kasus ini kejadian sama seorang artis perempuan yang akhir-akhir ini kena kasus narkoba. Doi ngaku cobain narkoba karena ngrasa depresi. Tapi tanggapan yang diberikan netizen justru nasehat. Doi harus bersyukur soalnya punya banyak privilege yaitu cantik, kaya, dan berbakat.

Sebenernya manusia itu bisa ngerasain banyak hal dalam satu momment. Seneng bisa, sedih bisa, cepek bisa, bersyukur juga bisa. Manusia nggak se-saklek itu kok buat ngerasain sesuatu. Manusia itu kompleks. Jadi kalo ada yang ngeluh, belum tentu dia nggak bersyukur. Tapi kalo doi ngelakuin kesalahan ya tetep harus dihukum tapi apa salahnya mem-validasi perasaan orang lain? btw ini berlaku ke semua orang yaa, nggak ke yang good looking doang :3

Lanjutt....

Beauty privilege juga bikin pandangan negatif terhadap diri seseorang, hal ini digambarkan di beberapa tayangan kalo ketika doi ngerasa nggak sesuai sama standart kecantikan doi bakal dibully. Jadi seumur hidup perempuan bakal terus dihantui sama narasi kalo fisik itu poin utama dalam dirinya, fisiknya adalah investasi masa depan dan sebagainya. Hal ini menyebabkan perempuan lebih kritis terhadap fisik mereka dan lebih sering membanding-bandingkan diri. Dan gara-gara itu jadi mempertegas wacana kalo perempuan cuma fokus sama penampilan fisik aja. Terutama perempuan good looking bakal dianggep nggak bisa ngelakuin apa-apa kecuali cuman mempedulikan penampilannya aja. Nah ini yang terjadi sama perempuan yang disuruh nampang doang di depan client. Padahal sebenarnya dia mungkin punya potensi yang besar. Atau proposal di ACC client karena doi punya keterampilan komunikasi yang bagus. Jadi nggak melulu tentang penampilannya dia doang.

Stereotip ini akhirnya mempengaruhi aspek karir pada perempuan. Perempuan cantik yang bekerja di tempat yang dominan laki-laki sering banget diremehin dan nggak dianggep serius gara-gara wajah dan penampilannya. Doi akhirnya harus bekerja lebih keras buat membuktikan kompetensinya. Doi pingin mbuktiin kalo doi lebih dari sekedar penampilannya aja. Argumen beauty privilege ini nggak bisa dipakai buat mengesampingkan kerja keras orang good looking ini lakukan, karena being privileged is not a choice, but how you use your privilege is always a choice.

Punya beauty privilege nggak harus nolak apa yang dia miliki, karena itu adalah hadiah dari Tuhan. Alesan aku ngasih pengertian ini ya karena kita nggak bisa milih mau dilahirin dengan wajah kek gimana (sama halnya kayak kita gabisa milih kita besar di keluarga yg broken atau nggak :3 of course everything gonna be easier if your parents not divorce, but we can't choose) Asalkan nggak sombong, ngrasa lebih baik dari orang lain karena kecantikan atau ketampanannya, dan bahkan ngrasa superior bisa ngelakuin apapun. Semua standar ini cuman soal waktu dan tempat, yang artinya semua ini adalah hal-hal yang nggak baku. Semua ini Fana guys... Semua privilege ini asalnya adalah dari cara pola pikir kita dan lingkungan sosial yang membentuk. Cara ngubaahnya pun tentu dengan ngerubah pola pikir kita buat menghargai perbedaan dan bangga atas apa yang kita punya.

_bye                         

Hai Gess. Gilakk bener2 definisi menghilang setahun wkwkwkwk. Awalnya sih sok-sok an vacum biar tulisan dan pembahasannya menarik gitu, tapi malah keasikan rebahan dong dan nggak kepikiran topik baru buat ditulis. Anyway.... keknya lagi anget banget nih pembahasan tentang OKNUM. Yak Oknum yang jumlahnya  > Mayoritas wkwkwk. Ehhh sebelum ada yang ketok pintu dan nanya “Bapak ada?” aku mau disclaimer dulu kalo tulisan ini nggak lagi merendahkan instansi manapun ya. Ini mo ngebahas OKNUM-nya, ingat OKNUM.



Terlepas dari kasus pelecehan seksual yg kemarin. Aku malah tertarik sama kepribadian oknum ini yang bisa dibilang ‘sejenis’ A.K.A kata tungal dari ‘beragam’. Agak ngeri juga ngomonginnya. Jadi ini bukan berdasarkan pengalaman pribadi sih, tapi kebetulan banyak orang merasakan hal yang sama tentang kepribadiannya si oknum. Banyak banget yang bertanya-tanya mereka ini beneran sadar apa nggak sih waktu ngelakuin itu?

Q : Ngelakuin Apa?

Sumber : Shitposting FB


Kira-kira apa sih yang kalian tangkep dari penggalan chating diatas?

Yaasssss PD nya itu loh.

Aku gak pernah berhenti bertanya-tanya sih, gimana caranya kepribadian ini bisa tertanam di diri seseorang bahwa “Yassss iam the one, people always want me.” Mon maap berasa Rafatar kah?? Dan akhirnya muncul ginian...

Sumber : Shitposting FB

Kalo doktrinnya kek gitu sih sebenernya dah nggak kaget sih kenapa seseorang bisa punya kepribadian sepeerti itu. Ujung- ujungnya benar dan salah sih. Memang ada beberapa orang yang punya keinginan kek gitu sih, semacam kriteria gitu. Kriteria ingin punya pasangan yang berseragam, pegawai negri dan sebagainya. Itu nggak salah. Balik lagi ini ke preferensi masing masing. Tapi nggak semua orang punya preferensi yang sama. Yang salah disini adalah mindset mereka yang “Tinggal pilih.” Ini sangat problematik. Artinya mereka ini memposisikan ‘calon-calon pasangan’ mereka sebagai objek.

Nggak jarang OKNUM yang nge-chat ini sudah punya pasangan. Dan beberapa pengakuan yang aku dapat dari pasangan si OKNUM yang melakukan tindakan nge-chat orang secara random ini dia merasa sakit hati (of course) tapi gabisa putus/pisah. Why??? Wait...

Akhir-akhir ini aku nemu sebuah kata yang bisa menggambarkan perilaku si OKNUM ini. Berkat insight dari pasangan oknum. Kata yang pas untuk menggambarkan kepribadian ini adalah NARSIS. Yaasss kalo di dalam ilmu psikologi juga ada, biasa disebut NPD (Narcissist Personality Disorder).

Tapi yang namanya disorder nggak baik kalo kita ujug2 diagnose seseorang lagi sakit jiwa. Tapi narsistik ini sebenernya sebuah spektrum sih. Kenapa aku bisa menyatakan OKNUM ini mengidap NPD? Bukannya ini perilaku selingkuh (biasa)?

Sebenernya NPD ini kombinasi yang luar biasa sakit jiwa. Narsis, manipulatif, sadis, gapunya empati, gaslighting dan playing victim. Maaf ya kalo abis ini bakal banyak istilah2 yang terdengar kek bahasa kentut wkwkwkwk. Sebagai contoh karakter yang punya kepribadian NPD ya si Voldemort yang ada di Harry Potter.

Jadi NPD ini bakal ngrasa marah, sedih dan kecewa kalo dia nggak diperlakukan secara spesial. Karena ni orang ngerasadirinya lebih baik dari orang lain. Dan ni orang punya fantasi yang berlebihan soal kesuksesan diri dia sendiri. Ada beberapa kebiasaan yang keknya cuman orang NPD aja yg punya. Orang NPD seringkali dikira amnesia.

Q : Kenapa?

Karena dalam sekejap ni orang bisa mengubah keputusan bersama jadi keputusan seenak jidat dia. Contohnya tadi malem dia udah diskusi sm doi nya hari minggu mau pergi ke Gym tapi pas hari H tiba-tiba nih orang mlipir nggak jelas ke warnet.

Q : Dia nyadar nggak sih pas ngelakuin itu? Dia beneran lupa, apa pura2 lupa?

Dia 100% inget, dan herannya dia nggak pura-pura lupa. Tapi dia beneran nggak peduli. Yang dia peduliin cuman keputusan dia PADA SAAT ITU aja.

Oh iyaa balik lagi ke pembahasan korban NPD A.K.A pasangan dari oknum ini.

Q : Apa si NPD ini nggak nyadar ya kalo dia lagi nyakitin perasaan pasangannya??

Ya dia sadar dan yaa dia sengaja. Karena dia butuh supply untuk kepuasan batin dia.

Nonton aja disini : https://www.youtube.com/watch?v=LpbrAUrskEI

Q : Kenapa nggak diputusin aja sih ?

Yaah karena si korban ini udah ngerasain yang namanya trauma/stockholm syndrom. Kek cerita nya Disney Beauty and the Beast. Jadi kan sebenernya beast-nya itu nyulik princess Belle tapi pada akhirnya malah princess Belle naruh empati ke si Beast dan akhirnya jadi demen deh.  Itu penyebab kenapa korbn NPD nggak bisa putus dari NPD. Karena si korban ngerasa dia bisa ngerubah OKNUM ini jadi pribadi yang lebih baik kedepanya. Dan korbannya ini ngerasain fase hot and cold dimana dia ngerasa kadang disayang banget dan kadang ngerasa diperlakukan macam sampah. Jadi ketika korban lagi di fase disia-siain ini, korban akan mengingat-ngingat moment love bombing A.K.A anget angetnya tadi sehingga muncul nih pemikiran. “Dia Sayang kok.” Tapi kemudian muncul pertentangan batin “Dia sayang tapi kok tega memperlakukan aku kek gini yaa??” lama kelamaan itu jadi siklus. Siklus yang bisa nyiksa banget buat korban NPD.

Q : Dampak NPD buat korbannya apa sih ?

Dampaknya ya si korban akan kehilangan self esteemnya. Misal ketika si NPD ini selingkuh, alih alih memilih buat mutusin hubungan, korbannya ini malah menyalahkan dirinya, menyalahkan fisiknya dan segala yg melekat pada dirinya kenapa nggak bisa sempurna. Dan herannya si NPD ini juga mendukung ketika si korbn sedang menyalahkan dirinya sendiri. Terus si korban juga mengamini istilah bahwa cinta itu harus berkorban dan kalo dia bahagia aku akan bahagia. Ya pada dasarnya si korban ini kan “Orang yang Normal” jadi dia punya kecenderungan untuk berperilaku tulus kepada orang yang udah baik sama dia. Korban terus mencari pembenaran thd perilaku pasangannya yang NPD.

Q : Apa yang bisa kita lakukan sebagai teman korban NPD??

Gaada. Bener-bener nggak ada. Untuk menolong korban, si korban harus mau untuk DITOLONG. Sedangkan dalam kasus NPD ini si korban akan terus menerus denial terhadap perilaku pasangannya dan selalu cari pembenaran tentang perilaku NPD. Sebagai teman kita kudu mesti nyiapin telinga buat nggak bosen2 nya dengerin korban ketika lagi di fase downnya. Dan juga sharing tentang gangguan NPD ke korban biar korbannya sadar.  

Q : Gimana caranya lepas dari NPD?

NO CONTACT!!!

Q : Gimana caranya bales dendam ke NPD??

Gak usah bales dendam, cukup anggep orang itu dah nggak ada dalam idupmu!

PS : Buat temen-temen yang sedang mengalami kejadian2 diatas (semoga nggak) aku yakin kalian bisa sembuh dan merdeka dari kondisi itu.

_BYE_


Bonus Meme Wkwkwkwk

Hallo, Long time no see...

Rencananya sih mau upload sebulan sekali ya, tapi apa daya dari bulan Januari sibuk mulu, baru ada waktu sekarang. Enggak deng, cuman males aja wkwkwk.

 Terus nih banyak banget pemikiran-pemikiran yang udah dipendem, rasanya hampir meledak nih kepala. Sebenernya ini lebih ke misuhan sih. Aku mulai bingung mau mulai nulis isu apa lagi, saking numpuknya di otak. Oiya, bulan-bulan kemarin tuh aku udah mulai naik kelas nih, iya istilahnya tetep naik kelas kan? Jadi semester 4. Tambah nggak mudeng dah tu semua pelajaran, apa lagi yang dibahas pas kuliah cuman covid-covid-covid, begitu tes yang keluar teori psikologis. Sungguh membangongkan.

Tambah semester semakin banyak matkul yang bertema keluarga dan juga parenting. Keknya mau ngomongin ini dulu deh soalnya ini yang paling anget nih.

Btw, dewasa ini cielahhh, banyak banget orang tua atau orang yang berusia lebih tua seperti kakak atau yaa orang random lah, ngasih nasihat.

“Kalau kamu melihat saya melakukan hal jelek, jangan dicontoh, contohlah hal yang baik saja dari saya, ambil manfaatnya buang yang jelek-jeleknya.”

Pertama kali denger nasihat kayak gitu bagaimana ekspresi mu??

Kalo aku (nggak ada yang nanya) seketika senyum asem sambil alis naik satu coy. Kayak meng-isyaratkan kata “Yakin???”

Apakah ini bisa diterapkan ke pola parenting???

Sebenernya bisa ya, tapi agak paradoks aja, ribet gitu. Ribet buat si anaknya juga kalau udah tumbuh besar dan melanjutkan untuk mem-budi dayakan nasehat tersebut.

Misalnya :

Orang tua : Perilaku bapak dicontoh yang baik-baiknya saja ya nak (ucapnya sembari makan dan mengangkat satu kaki).

Kakak : Perilaku kakak dicontoh yang baik-baiknya saja ya dek (ucapnya sembari makan sambil berdiri).

Adik : -,-

Orang Tua : Jangan ngasi contoh yang jelek-jelek ke adiknya!

Anak : Lah bapak juga nyuruh aku nyontoh yang baiknya aja, kenapa aku gaboleh ngomong gitu ke adek??

Orang tua : …..

Nahloh??? Dapet kan dimana letak ke-paradoks-an dan ribetnya?

Sebenernya udah pernah ada peribahasa yang membahas ini, 

"Guru kencing berdiri, murid kencing berlari." 

Ya mereka malah jadi nyontoh jeleknya dengan versi lebih parahnya.

Q : Terus apa sih tujuannya mereka ngasi nasehat gitu?

A : Mostly ya karena mereka gak pingin aja ngasi dampak negatif ke orang yang lebih muda di sekitar mereka.

Q : Tapi apa nasihat itu bakal ngaruh ??

A : Kabar buruknya, nggak bakal ngaruh coy. Yang ngasi nasehat itu bakal jontor doang bibirnya. Realitanya orang itu cenderung melihat perilaku dan tau sendiri laah, seribu kebaikan bakal ketutup sama satu kesalahan.

Konklusinya apa?

Jadi kalo lu kasi nasehat kayak gitu percuma, orang bakal inget jelek-jeleknya elu doang. Jadi yang ditiru??

YA JUSTRU JELEKNYAA.

Apalagi ya kalo ini konsepnya parenting, yang namanya anak pasti orang tua itu jadi role modelnya mereka, demikian dengan kakak kelas, atau senior di tempat kerja lu. Mereka punya peran yang penting buat kasi contoh yang baik-baik tanpa kasi nasehat “Dicontoh yang baik-baiknya aja”.

Aku yakin lu juga udah pernah denger peribahasa “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya". Sebagai pohon tentunya tidak bisa dong nyuruh buah yang udah mateng buat jatuh ke pekarangan tetangga beda RW?? Yang ada ntar dituduh nyolong buah wkwkwk.

Sama halnya dengan anak, orang tua yang sehari-hari ngomong kasar, sehari hari kelakuan kasar, walaupun si ortu rajin menabung, baik hati, dan tidak sombong pun yang si anak akan tetep niru kata kasar dan kelakuan kasar si ortu. Kembali lagi, si anak itu melihat definisi baik dan jelek itu dari orang tuanya. Anak tidak akan terima pernyataan kontradiktif, mereka akan cenderung protes, “Kok bapak ngomongnya gitu? Padahal aku gak boleh.”

Satu lagi, aku ngerasa banget ini nasehat itu udah berubah artinya. Seolah-olah pelaku ingin orang-orang menormalisasi dia melakukan hal yang jelek. Dengan harapan, “Kan nantinya dia bakal nyontoh yang baiknya aja, jadi jelek2 nya gabakal dicontoh, selow aja lahh.”

Kalo pada akhirnya orang nyontoh perilaku jeleknya dia?? Yaa biasanya orang-orang ini marah2, dan kembali mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu “Dicontoh baiknya saja yaa” (Lagi).

Semangat, semoga banyak yang tersinggung.

_bye

Iya iya udah tahun baru, nggak usah ditanyain resolusi deh.

Tahun baruan pada ngapain nih? Kalo aku tidur dan kebetulan banget malah salah bantal, berakhir nggak bisa tengok kiri. Aku nulis iki karo sambat aduh-aduh.

Di rumah aja, di rumah terus. Rebahan dan Gedget adalah jalan ninjaku.

Btw kemarin lagi iseng liat2 beranda youtube dan tertarik banget lihat video yang judulnya “Rahasia laki-laki”. Apakah laki-laki se-misterius itu ya?

      Nah di video itu beberapa laki-laki pokoknya membacakan rahasia laki-laki lainnya. Sampai akhir video kesimpulannya masih banyak laki-laki di luar sana yang di-ekspektasikan lebih oleh society, melebihi kapasitas yang dia punya. Contohnya kayak gaboleh nangis, cowok harus kuat, harus bisa berantem, gaboleh pakai benda yang warnanya pink, dimarahin ketika ketahuan pakai lipstik. Sebenernya istilah ini sudah cukup umum di masyarakat, Toxic Masculinity.

      Studi yang berkaitan dengan identitas dilakukan oleh Dasgupta (dalam Tirtana 2005) mengenai wacana maskulin yang dibangun melalui interaksi antara laki-laki dengan sesama ataupun dengan lawan jenisnya. Sehingga hasil dari proses interaksi tersebut menghasilkan sesuatu yang akan memunculkan suatu kesadaran diri tentang wacana gender yang kemudian berpengaruh pada perilaku individu.

Kesimpulannya makna identitas diri itu berasal dari hasil interaksi. Interaksi ini nanti berbuntut panjang dan akhirnya bisa mempengaruhi cara bersikap dan memaknai dari proses interaksi itu sendiri. Hadeeeehhh ngemeng apa sih jeng??

Anyway, Kondisi seperti ini akhirnya dimanfaatkan sama produsen kosmetik dengan menciptakan produk kosmetik khusus laki-laki agar mudah diakses oleh konsumen berjenis kelamin laki-laki.

Even those appointed by capitalism to privileged positions are vulnerable to industrial society’s lurches from one mode of being to the next (Seabrook, 2008).

Pokoknya kapitalis itu punya posisi strategis banget deh manfaatin peluang dalam masyarakat ditengah stigma yang sudah banyak ditanamkan pada laki-laki.

Kalian pasti paham kan yang aku omongin dari tadi??

Yaaa Produk yang ber-label “MEN”.

Q : Kok bisa ada produk kosmetik berlabel MEN? awalnya gimana?       

Dari dulu produsen kosmetik itu bikin produk kecantikan ya untuk dikonsumsi perempuan yang ingin cantik. Sebenernya menurutku ini cuman persepsi publik aja -_- dimana di-iklan yang pakai produk itu ya perempuan, kenapa dipilih perempuan? Karena perempuan diangap sebagai pembeli potensial. Udah itu aja kok alesannya, jadi produk yang ngiklanin perempuan belum tentu khusus untuk perempuan coy -_-

Q : Berarti softex…

Aku bilang “belum tentu” berarti nggak semuanya yaa kampret.        

Kembali ke laptop.

Semangat kapitalisme ini kayak bikin para elit kapitalis ini jadi tambah rakus, pingin dapet kelebihan terus menerus, makanya dibuatlah produk yang fokus pada konsumen berjenis kelamin laki-laki dengan memanfaatkan konstruksi maskulinitas laki-laki yang berkembang di society, pokoknya para kapitalis ini memproduksi kosmetik khusus laki-laki dengan jargon maskulinitas. “PAKAILAH PRODUK INI SUPAYA ANDA BISA TETAP GOOD LOOKING TAPI TIDAK KE-CEWEK2-AN” HAHAHAHA

Apalagi keyataan bahwa produk yang dilabeli “KHUSUS” malah harganya cenderung lebih mahal. Kalian para laki-laki juga harus pinter-pinter ya.

Q : Apakah kulit laki-laki dan perempuan benar-benar berbeda sehingga membutuhkan produk khusus untuk sesimple shampoo dan facial foam?

Jujur aku sendiri pun juga kadang sengaja pakai produk for men and nothing happen, facial foam contohnya. Katanya kulit laki-laki lebih tebal, lebih berminyak, lebih berjerawat dll. Kalo itu bener, kan facial foam sendiri sudah di formulasikan sesuai jenis kulit yaa, kalo merasa kulitnya berminyak ya tinggal pakai produk for oily skin. Entah biar expertnya yg jawab, berhubung aku bukan expert jadi diem baee.

Aku sendiri udah agak eneg, soalnya setiap belanja bulanan ibu harus pusing2 masukin facial foam kemasan biasa sama yg for men ke keranjang, dimana itu harus ngeluarin uang lebih Cuma buat facial foam khusus.

Q : Apakah ini semakin memperkuat isu toxic masculinity di masyarakat?

BIG YYYYYY

_Bye_

Postingan Lama Beranda

HAI SELAMAT DATANG

Hai... Aku suka banget bahas hal hal yang lagi terjadi, entah itu isu sosial atau yang lainnya, yang kebetulan nggak kuat ku tampung di otak karena takut lupa hehe.

FOLLOW ME

POPULAR POSTS

  • Punya hidup struggle adalah privilege
  • (Sudah) New Normal : Katanya dengan Berpikir Positif itu Cukup ?
  • Di atas langit masih ada langit : Di atas UGM masih ada UI
  • Kenapa Kita Harus Contoh Yang Baiknya Aja Dari Orang Tua Kita?
  • Kerja sesuai passion itu mitos!

Categories

  • #guruBK 6
  • Budaya 6
  • Psikologi 5

Advertisement

Hanamizuki.id

Sampai Jumpa

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates