Menanggapi
tulisan dari
https://kolom.tempo.co/read/1320409/corona-dan-hantu-isolasi-diri/full&view=ok
Dalam analisis ini, saya akan mengunakan teori Sigmund Freud
sebagai acuan mengomentari tulisan yang sudah disediakan.
“Namun masih tampak perilaku manusia Indonesia yang egosentris sehingga
sulit sekali mengeksekusi disiplin dengan social distancing measure.”
Menurut Sigmund Freud kepribadian terdiri dari 3
elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, Ego, superego yang
bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks. Nah, dalam hal
ini elemen yang akan saya highlight adalah Ego. Menurut freud ego berkembang
dari id dan memasti kan bahwa dorongan dari id dapat di nyatakan dalam cara
yang dapat di terima di dunia nyata.
Dalam kasus ini id akan mendesak untuk pergi
keluar dalam kondisi pandemi corona yang sedang terjadi, super ego mendesak
untuk tetap berada di rumah untuk meratakan kurva jumlah kasus sehingga tidak
membanjiri sistem pelayanan kesehatan. ego
adalah pengambil keputusan diantara keduanya, yaitu antara id dan superego.
setelah ia menimbang untung dan ruginya dari kedua pilihan yang ada, ia lalu
bertindak berdasarkan keputusan yang ia pilih. Namun dengan adanya Egosentrisme
ini (ketidakmauan seseorang untuk melihat dari perspektif (sudut
pandang) orang lain) menjadi kekurangan dalam pengambilan keputusan yang tepat.
Namun berdasarkan opini saya kata “manusia
Indonesia” yang berlaku sebagai subyek terdiri dari
berbagai usia mulai anak sampai lansia. Namun kata “egosentris” rasanya
kurang tepat karena egosentris adalah sikap ketidaktahuan terhadap
pola pikir atau sudut pandang dengan mementingkan diri sendiri dikarenakan
kesadarannya belum terbentuk dengan sempurna. Sedangkan jika dikaitkan dengan
usia manusia dewasa hal ini tidak berlaku. Sifat egosentris berkurang mulai
umur 16 sampai 17 tahun, semakin bertambah umur semakin berkurang. Menurut saya
kata yang lebih tepat digunakan adalah “egois”. Egois adalah
sikap ketidak mau tahuan terhadap pola pikir atau sudut pandang dengan
mementingkan diri sendiri.
“ Humor, sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri manusia,
muncul dalam skala rendah, mengingat warganet Indonesia biasanya sangat humoris
dalam merespons banyak isu.”
Menurut kutipan kalimat di atas dapat
dikategorikan dalam jenis mekanisme pertahanan diri sublimasi. Sublimasi adalah
penyaluran impuls yang tidak dapat diterima, pikiran dan emosi ke dalam
pikiran, emosi dan impuls yang lebih dapat diterima. Jadi dalam hal ini
warganet membuat semacam lelucon bahwa Indonesia kebal corona karena
sering minum T*lak Angin. Humor, bila digunakan sebagai mekanisme
pertahanan, adalah penyaluran impuls atau pikiran yang tidak dapat diterima
menjadi sebuah cerita yang ringan-hati atau lelucon. Humor mengurangi
intensitas dari suatu situasi, dan tempat untuk mentertawakan baik orang maupun
impuls tersebut.
Dalam situasi yang sedang terjadi saat ini saya
juga mengamati perilaku dari orang sekitar yang mengalami kecemasan misalnya
kegiatan panic buying. Pembeli
pertama mengamati perilaku pembeli kedua yang menimbun bahan belanja, pembeli
pertama mungkin bisa terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Bagi
pelaku panic buying, risiko yang menanti karena krisis mungkin akan
sedikit berkurang karena bahan-bahan yang ditimbun tetap bisa digunakan di
kemudian hari. panic buying dapat terjadi karena kita tak bisa
menerka berapa lama krisis kesehatan masyarakat (termasuk COVID-19) akan
berlangsung. Informasi dari media pun memicu kita untuk masuk ke dalam mode
panik tersebut.


0 Comments