(Sudah) New Normal : Katanya dengan Berpikir Positif itu Cukup ?


Istilah New normal saat ini sangat mudah ditemui masyarakat dalam berbagai platform media. Untuk memulai, terlebih dulu saya uraikan apa itu New Normal.
    New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19 (Kompas.com - 20/05/2020).

    Menurut sudut pandang saya New Normal dengan PSBB atau Lockdown memiliki perbedaan, New normal sendiri bukanlah suatu kebijakan, seperti PSBB dan Lockdown. Karena New Normal adalah sebuah situasi yang terjadi melalui sebuah proses, atau lebih tepatnya harus disepakati oleh masyarakat.

    Untuk kebijakan seperti PSBB dan Lockdown tidak membutuhkan kesepakatan masyarakat karena perintah ini datangnya dari pemerintah, jadi masyarakat harus mematuhi kebijakan. Yang mana apabila kebijakan ini tidak dipatuhi sempat ramai pelanggarnya akan dijatuhi pidana.

    Namun di negara kita New normal dibuat seperti sebuah kebijakan. Kebijakan yang “menghaluskan” kata “pelonggaran PSBB”. Hal ini dianggap kebijakan apabila pemerintah sudah mulai mengumumkan ‘tanggal’ berlakunya New Normal. Seolah pintu gerbang kemerdekaan bagi masyarakat yang sudah lama terpenjara di rumah selama PSBB. Kemudian ketakutan saya mulai bertambah. Untuk masyarakat yang
kewaspadaannya kurang, mereka cenderung menganut pemahaman bahwa semuanya ‘sudah normal kembali’.

    Kembali ke poin mematuhi protokol kesehatan. Menurut saya hal ini menambah daftar PR masyarakat yang harus direnungkan di rumah masing-masing. Sama halnya seperti memakai Helm ketika berkendara, masyarakat masih enggan untuk memakai masker. Saya juga berkesempatan melakukan observasi di lingkungan saya, sebagian masyarakat baru memakai masker apabila mereka pergi ke tempat yang ‘mengharuskan’ penggunaan masker. Jadi di kasus ini kesadaran diri masyarakat masih sangatlah rendah, sama halnya seperti menggunakan helm ketika berkendara jauh saja.

    Perlunya sosialisasi bahwa cuci tangan, menggunakan hand sanitizer dan masker bukanlah sekedar formalitas. Seperti halnya menggunakan helm saat berkendara di jalan raya, saat mencuci tangan kita tidak hanya sekedar memenuhi syarat agar bisa masuk ke suatu tempat tapi demi kesehatan kita sendiri.

    Secara sosial disadari bahwa hal ini akan berpengaruh. Pasalnya, ada aturan yang disebutkan dalam protokol kesehatan untuk menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain (physical distancing). Physical distancing hanya sebatas menjaga jarak, terlihat pada saat ketika berada di area publik seperti ketika melakukan antrian di anjungan tunai mandiri (ATM). Seolah olah jarak cukup untuk mengantisipasi penularan. Tanpa mengedepankan sanitasi fasilitas tersebut.

    Contoh 3 orang antre di ATM dengan jarak 1,8 meter. Tapi setelah tiba giliran mereka. Mereka masuk ke bilik satu persatu, memegang gagang pintu, menekan tombol pada atm tanpa melakukan sanitasi terlebih dahulu. Ya, physical distancing bukan hanya tentang jarak. Pemikiran ini lah yang harus ditanamkan untuk menghadapi New Normal.
    
    
    Banyak sekali hal yang harus disiapkan untuk menghadapi New Normal, yang akan saya sampaikan sayangnya bukan mengenai apa saja yang harus dibawa saat beraktifitas diluar ketika new normal. Karena saya rasa masyarakat sudah tahu apa saja yang harus dipersiapkan seperti masker, handsanitizer dan lain-lain.

    Tidak sedikit pula pendapat yang datang bahwa berpikir positif pada saat pandemic ini sangatlah mempengaruhi imunitas kita. Banyak yang setuju dan beranggapan bahwa berpikir posistif dapat mengurangi stress yang negatif, maka secara tidak langsung kita lebih sungkar terpapar covid-19, hanya dengan berpikir posistif. Entah kenapa saya selalu berpikir berkali-kali untuk meng-iya kan pendapat tersebut. Menurut saya berpikir positif ada tempat dan batasnya. Sekedar berpikir positif saja tidak cukup. Karena berpikir positif terus-menerus tanpa memikirkan tempat dan batas justru berbahaya karena dapat menurunkan kewaspadaan. Menurut saya hal yang di anjurkan bukan lah berpikir positif, tapi cukup berpikir rasional. Saat yang berpikir positif yang menurunkan kewaspadaan itu artinya bukanlah berpikir positif tapi lebih ke Toxic Positivity.

    Nafsu tatanan New Normal menurut saya tidak perlu di nanti-nanti apalagi dengan euphoria, mengingat angka kasus positif covid-19 terus bertambah. Demikian opini yang saya tulis, apabila ada kesalahan kata atau penulisan saya mohon maaf.

0 Comments