Apa aku harus menikahi seluruh keluargamu juga?


Kaum kaum yang ngebet banget nikah ayo kumpul dulu . . .

Pernah dengar quote “Menikah dengan pasangan berarti menikahi seluruh keluarganya?” apa itu benar? Sebentar sebentar, sebelum terlalu jauh ku bahas dulu ya apa itu pernikahan.

Pernikahan adalah suatu peristiwa yang secara formal mempertemukan sepasang mempelai atau sepasang calon suami-istri di hadapan penghulu atau kepala agama tertentu, para saksi, dan sejumlah hadirin untuk kemudian disahkan secara resmi sebagai suami-istri dengan upacara-upacara atau ritual-ritual tertentu. Oleh karena itu, pernikahan menjadi sebuah perlambang yang sejak dulu dibatasi atau dijaga oleh berbagai ketentuan adat dan dibentengi oleh kekuatan hukum adat maupun kekuatan hukum agama. Dari sini sudah terlihat bahwa pernikahan adalah hal yang sangat kompleks dan personal.

Untuk melalui sebuah pernikahan dibutuhkan pasangan atau partner hidup. Dalam hal ini terkadang Orangtua / keluarga juga tanpa ragu memilihkan pasangan untuk anaknya. Dalam pandangan keluarga yang konservatif hal ini tentu sah sah saja. Hal ini melekat di budaya Indonesia atau budaya ketimuran. Memilih bibit, bebet, bobotnya. Kadang orang tua tak segan untuk menanyakan weton pasangan si anak untuk sekedar mencari kecocokan.

Tapi, apakah boleh orang tua atau keluarga bertindak sejauh itu?

---Orang tua selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya---

Sejak kecil kita selalu di arahkan ini itu, bahkan di doktrin (dogma). Tentu, demi kebaikan kita. Tapi jika sejak kecil semuanya sudah ditentukan tanpa diberi kesempatan memilih apakah ini baik? Bagaimana pengaruhnya jika anak sudah dewasa?

Setelah dewasa anak ini tidak memiliki jiwa. Orang yang pintar bukan berarti bahagia apabila jiwanya kosong. Karena sejak kecil ia terbiasa meng-iya-kan segalanya, selalu menerima, tidak pernah mempertanyakan, dan selalu berpasrah.

Ketika tiba waktunya memilih pasangan, semua kemampuannya harus sesuai dengan standar orang tua dan keluarga. Harus orang yang baik baik, bisa memasak, kalem, punya pekerjaan tetap dan lain lain, kadang secara tidak sadar juga memberi standar mengenai bentuk fisik. Padahal hal itu kadang justru bertentangan dengan standarmu sendiri. Kadang juga timbul rasa kesal, pasangan kita harus menjilat demi memvalidasi kemampuannya kepada keluarga kita. Atau bahkan aku dan kamu yang harus menjilat di keluarganya. Semuanya terasa terpaksa bukan?

Setelah dewasa masalah kita bukan lagi kuasa dari orang tua kita, apalagi ini dalam fase penikahan. Sehingga kita bisa lari dan mengadu tentang kekurangan pasangan kita. Lalu siapa yang bertangung jawab? Apakah orang tua dan keluarga bertanggung jawab mengenai keharmonisan keluargamu? Atau bahkan masalah personal seperti urusan ranjang? Tentu saja tidak.

Setelah kamu menemukan orang sesuai dengan standar keluargamu, apakah lantas membuatmu bahagia? Atau hanya membuat keluargamu bahagia? Ketika kamu berada di fase ini coba tanyakan pada dirimu sendiri. Apa tujuanmu menikah? Kenapa menikah lebih baik daripada sendiri? Apakah dengan menikah kamu menjadi lebih dewasa dan memahami hidupmu?

Menurutku pasangan tidak harus selalu lebih baik, dalam segi apapun. Selama bisa berbenah bersama. Menikah adalah proses dalam hidup dan juga penyempurna agama. Namun pernikahan bukanlah formalitas. Ketika semua teman seumuranmu menikah lantas kamu harus menikah pada saat itu juga. Pada akhirnya kamu sendiri yang harus bertanggung jawab, menyesuaikan sendiri dengan pasanganmu, tanpa ada campur tangan atau bisikan dari siapapun.

0 Comments