#sok_tau!
#sok_tau!
  • Home
  • About
  • Random Features

 

Udah akhir tahun aja coy. Setahun penuh rasanya nggak ngapa-ngapain, merasa setahun ini nggak mencapai apapun. Ya sejujurnyaa walaupun nggak pandemi, aku memang nggak punya resolusi apapun, nggak membatasi tahun ini harus ini harus itu, cuman bedanya tahun ini lebih disemangatin aja supaya nggak ngapa-ngapain, stay at home, duduk manis menanti update-an drakor wkwkwk.

Btw, ngomongin drakor pastinya saat ingin menonton juga pilih-pilih dong yaa, ntah itu genrenya atau sekedar ngikutin idolamu yang main di drakor itu. Semua itu tergantung keputusan mu, ketika sudah selesai episode 1, apakah ada keinginan melanjutkan episode 2 dan 3 itu juga keputusanmu. Lalu kenapa kamu memilih ? Pastinya tertarik dong yaa, tertarik untuk melanjutkan atau pun tertarik oleh drakor lain dan memilih untuk tidak menonton kelanjutan drakor sebelumnya. Ingat, kamu melakukan itu dengan penuh kesadaran.

Tapi nggak tau kenapa saat ditanya mengenai pilihan hidup yang sekarang, aku justru berteriak :

“Orang tuaku memilihkan jalan ini untukku.”

Saat ditanya kenapa, aku menjawab :

“Karena ini jalan yang diinginkan orang tua ku, aku ingin berbakti, aku tidak ingin membantah, aku ingin membuat mereka bahagia.”

Kemudian berhenti disitu, padahal banyak banget usaha yang udah ku lakuin tanpa sepengetahuan ‘mereka’.

Contohnya, sejak kecil aku ini punya banyak banget keinginan. SMP aku merengek pengen melanjutkan ke penerbangan. Yaa, aku pengen jadi pilot (saat itu). Tapi ketika orang tuaku berkata tidak. Aku hanya menurutinya nggak berani nanya kenapa dan bagaimana caranya supaya diijinkan. Yaa karena sejak kecil diajarkan membantah itu bukan hal yang baik.

Tapi, seiring berjalannya waktu jiwaku merasa kosong, nggak tau mau kemana.Seperti di setir oleh ‘mereka’. Berkali-kali punya keinginan tapi ‘mereka’ nggak pernah men-support aku. Mereka selalu berkata TIDAK. Kemudian yang aku lakukan hanya menyalahkan ‘mereka’ mengutuk mereka karena mengurungku di rumah. Melarangku melakukan hal yang mau aku lakuin.

Saking capeknya ngeluh, akhirnya aku beranikan diri nanya ke diri sendiri. Apa mungkin aku yang salah?? Mungkin aja tujuan mereka ngelarang itu buat memastikan aku itu serius apa nggak sama pilihanku itu. Alih alih memohon aku malah langsung balik kanan bubar jalan.

Katanya ridho Allah itu ada jika ada ridho orang tua. Kata itu terus melekat, bikin aku takut menjalani apa yang aku yakini.

SEPERTINYA AKU INI HANYA ORANG YANG MUDAH MENYERAH.

Yaa, aku ini sebenarnya mudah menyerah, berlindung dibalik kata “nggak boleh sama bapak.” Padahal kalau aku berusaha meyakinkan, mereka pasti juga akan setuju.

Q : Terus kenapa kamu masih tidak berani menolak pilihan ‘mereka’?

Ya mungkin salah satunya ketakutan untuk tidak dibiayai kan?? Sebenarnya aku punya kabar baik dan buruk untuk disampaikan.

Kabar Baiknya, ITU TIDAK MUNGKIN TERJADI. Sebagai orang tua yang bertangguang jawab, walaupun mereka tidak suka akan pilihanmu, mereka akan coba menerimanya. Tapi, kabar buruknya TANGGUNG JAWABMU MENJADI LEBIH BERAT. Kalo kamu gagal kamu akan disalah-salahkan seumur hidupmu. ‘Mereka’ akan menggerutu “Apa kata mama dulu pilihan mama pasti yang terbaik.”

Tapi ketika pilihan ‘mereka’ gagal, apakah ‘mereka’ mau DISALAHKAN??

A : Orang tuaku sih terserah aku mau jadi apa, tapi kayaknya aku nggak diijinin kerja disana, soalnya peluang kerjanya cuma SEDIKIT.

Hei, buat apa kamu percaya sama orang yang nggak percaya sama kamu?

Ntah peluangnya 2%, 1% atau 0,001% pun aku percaya kamu bisa jadi bagian dari SEDIKIT peluang itu. Sebaliknya, orang yang berkata JANGAN ketika peluang mu hanya sedikit adalah orang pertama yang harus kamu teriakin kenceng ke telinga mereka “TUH KAN, AKU BISAAA!!!”

Agak disayangkan kalau kamu meng-iya kan itu tanpa mendengar dirimu terlebih dahulu. Hidupmu itu punyamu, kamu yang jalani, kamu yang rasakan. Cari orang yang tepat, karena banyak orang di dunia ini yang akan tetap bertepuk tangan walaupun jalanmu salah. Alhasil kamu nggak tau jalan yang kamu lalui itu bener atau nggak.

Wait…. Bener dan salah, apa parameternya? Apakah bener dan salah itu absolut?

Yaa, mungkin lain kali deh aku ngomong masalah ini, mataku udah kabur liat layar laptop nge-glitch. Bye-

 

    Selama pandemi bingung rasanya di rumah nggak ngapa-ngapain. Sebagai mahasiswa yang masih minta duit sama bapak, kadang ada rasa nggak enak kalo minta duit sekedar buat jajan tapi kantong kering banget. Ya mau nggak mau aku coba dong cari cari kerjaan yang menghasilkan duit dari rumah. Mulai deh serching-serching kerjaan di situs freelance. Bingung banget tuh, keahlian yang aku punya apa sih?? Kira-kira pertanyaan itu yang selalu nongol ketika bingung mau ngapain.

“Katanya kalo kerja sesuai passion, pekerjaan sesulit apapun jadi lebih enjoy ngerjainnya.”

Mendengar kalimat itu jadi teringat lagi jaman SMK. Masa-masa yang pas untuk cari tau apa bakat dan minat seseorang. Dari kecil emang aku ini suka banget nari, entah modern atau tradisional. Beberapa kali ikut lomba walaupun gak menang tapi rasanya puas setiap kali selesai perform.

Jadi passion itu apa?? apa sama ya dengan hobi??

Sebenarnya passion dan hobi adalah 2 hal yang berbeda namun lambat laun terjadi distorsi terhadap makna dari kedua kata tersebut.

Passion dalam Bahasa Indonesia menurut KBBI, gairah berarti keinginan atau hasrat atau yang kuat. Ketika seseorang memiliki passion dalam diri, mereka akan dihantui oleh rasa penasaran dan antusias yang luar biasa, sehingga mereka selalu ingin lebih baik dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan yang dilandasi dengan passion. Sedangkan hobi adalah sebuah kesenangan istimewa yang dilakukan di waktu senggang. KBBI juga menegaskan bahwa hobi tidaklah sama dengan pekerjaan dan bukan dijadikan sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi, benar-benar hanya untuk kesenangan saja.

Tapi tidak jarang ada beberapa orang yang menjadikan hobinya sebagai pekerjaan. Contohnya orang yang hobi melihara cupang lalu orang itu memutuskan untuk ternak cupang, dan menjualnya . . . akan tetapi dengan adanya orang orang yang menjadikan hobinya sebagai mata pencaharian bukanya malah membuat batasan antara passion dan hobi menjadi abu-abu? Maka dari itu terjadi lah distorsi makna antara keduanya.

Kembali lagi, berarti menari adalah hobiku. Tapi aku juga selalu penasaran dan antusias dengan koreografi baru. Nah, apa itu bisa disebut passion? Tahun ke 2 di SMK sempat ada rencana untuk meneruskan ke universitas jurusan seni. Tapi tersandung lagi, keluargaku kurang support aku ada di bidang ini untuk alasan tertentu. Bingung lagi dong aku? Aku Cuma bisa di bidang itu aja dan sekarang aku harus melepas itu? sekolah juga gak pinter-pinter banget. Sampe akhirnya udah tahun ke 3  SMK. Semua teman pada sibuk ikut tes buat daftar PTN dan kedinasan. Aku yang gak berani ambil langkah itu karena takut nyesel akhirnya diem aja sampe akhirnya lulus. Lulus tanpa tujuan lebih tepatnya.

Disamping itu aku malah lebih memilih kerja dan memutuskan buat kuliah setahun kemudian untuk lebih kenal diri sendiri aja. Apa sih yang aku mau dan aku bisa. Mencoba hal-hal baru misalnya kursus jahit, jualan, mulai banyakin membaca, mengambar dan bikin tulisan tulisan semacem ini. Bolak balik gramedia dan perpustakaan daerah buat cari buku pengembangan diri yang rata-rata judulnya “How to find your passion?”

Lalu apa sekarang aku udah nemu passionku?? Tentu saja belum. Itu sebabnya sekarang aku ambil jurusan Bimbingan dan konseling. Bukan buat orang lain, tapi untuk mengenal diriku sendiri dan apa yang aku mau. Egois bukan??

Setahun kuliah aku malah nemuin hal yang bikin tambah pusing. Capek capek cari passion kesana-kemari dan menjadikan itu pekerjaan eh malah bikin kesenangan itu hilang. Selama beberapa tahun ini ada segelintir orang yang nyodorin fotonya ke aku dan minta di re-create buat dijadiin kado atau apapun. Sempet terpikir, “waah ide yang bagus, gimana kalo aku open commission gambarin mereka lumayan bisa jadi duit.” Tapi kemudian mikir mikir lagi tentang definisi hobi di atas. Mikir sejuta kali buat jadiin itu sebagai pekerjaan. Gimana kalo nanti dikejar deadline? Gimana kalo dia request harus ini dan itu? Gimana kalo nanti kreativitasku terbatasi sama berbagai request? Gak boleh ini gak boleh itu.

Oke, ternyata ide itu gak terlalu bagus kalo buat aku pribadi. Aku takut kehilangan hobiku. Takut kehilangan sesuatu yang aku lakukan ketika lagi senggang. Dan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan.  

Kebetulan nih nemu ilustrasi yang pas banget dari Tahilalats.

Capek-capek cari passion ehhh malah ntar ujung ujungnya jadi benci dan terbebani.

Kebetulan ada juga beberapa temen yang bantuin tagging di Igeh buat ritual permisuhanku.


Menanggapi repost-an di igeh tentang passion. Sebenernya bukan poin itu yang mau aku jelasin disini. Kalo dari repost-an itu, terlihat memang seseorang yang idealis dan berusaha supaya passionnya menghasilkan uang. Tapi kalo dia bertahan dengan ideologi itu, tuh orang jadi ga punya karir, ga bisa maju atau sejenisnya. Jadi dia lebih milih njalanin bisnis yang bisa dibilang bukan passionnya dan alhamdulilahnya menghasilkan.

Kalau kata dosenku, aku ini termasuk orang yang beruntung. Tau apa passionku, tau apa kesukaanku Cuma kurang bersyukur aja dan kurang berusaha. 1 bulan lalu, aku daftar ke agensi jurnalistik yang lumayan terkenal, yaaa itung-itung pengen ada pemasukan gitu di masa pandemi gini. Udah dapet panggilan wawancara. Pas wawancara, eh berhenti di tengah jalan. Gara-gara apa?

Aku kembali ke- keraguanku.

“Ambil nggak yaa…”

“Kalo nanti ku ambil, kalo dikejar deadline gimana?”

“Ntar aku jadi benci nulis.”

“Ntar aku jadi gak menikmati lagi proses menulis kayak gini.”

“Kalo topik pembahasannya diatur apa aku bisa passionate dalam menulis?”

dan hal ter-konyol sedunia,

"Katanya kalo passion, kita bakalan rela kerja walaupun gak dibayar."

“Kalo ini, kalo itu…”

Sebenernya aku sadar sih kalo itu cuma overthinking aja, tapi sialnya aku berkali-kali bertemu dengan orang yang terbunuh dengan passionnya sendiri. Hobi ngoprek koding, pas udah kerja di bidang itu dia jadi bosen, pikirannya stuck, gak bisa berkembang dan lain-lain. Menurutmu gimana? 


Perasaan kemarin baru aja awal tahun, nggak kerasa udah bulan Agustus aja nih. Sudah tiba saatnya pejuang-pejuang PTN menunjukan taringnya. Karena aku salah satu orang yang hidup lempeng dan gak punya ambisi daftar PTN, banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalaku nih.

 

Kenapa sih orang pada ngincer kuliah di PTN?

Apa sih alasan Universitas yang mereka incar itu jadi Favorit?

Apa tujuan mereka kalau nanti udah di terima di Universitas itu?

Emang apa bedanya belajar di Universitas ini dan itu?

Lalu muncul beberapa jawaban default yang biasa diserukan orang-orang, yaitu mau banggain orang tua, biar nanti bisa kerja di tempat yang bonafit, channel-nya luas, dan jawaban yang terbaik dari yang terbaik adalaaaahh G E N G S I .

Lalu muncul lagi sebuah pertanyaan “Kenapa sih orang malu dan gengsi kalo berkuliah di PTS?”


Sudah jelas, alasannya adalah stereotype. Because I am a rare species, not a stereotype, aku coba tenang dan mikir lebih sering lagi. Ada kemungkinan angka 6 jadi angka 9 kalo dilihat dari sisi yang berbeda dengan cara membuka diskusi kecil lewat Whatsapp story.


Skipp dulu >>>

Beberapa minggu belakangan ini mata ku iritasi dan kukira itu cuman kelilipan biasa, jadi aku biarin aja. Semakin lama rasa sakit di mataku itu gak bisa ditahan lagi, dan aku putuskan untuk periksa ke Puskesmas. Ternyata alat dan fasilitas di puskesmas nggak memadahi untuk memeriksa mataku. Akhirnya dokter di puskesmas itu nyaranin buat rujuk ke rumah sakit. Setelah dapat surat rujuk, langsung cuss ke rumah sakit yang dimaksud. Singkat cerita, namaku udah dipanggil dan harus masuk ke ruangan poli mata untuk sesi konsultasi. Aku ceritain semua keluhannya apa. Terus salah satu perawat akhirnya nganter aku ke salah satu alat, yaa semacem kaca pembesar gitu. Mata ku di periksa dan benar ada sesuatu di dalam sana. Dengan fasilitas rumah sakit tersebut akhirnya bisa menyelesaikan penderitaanku selama ini.

Q : Terus jeng, hubungannya apa sama pembahasan??

Tenang, anggap saja itu sebagai analogi.

Kata kuncinya di sini adalah Fasilitas.  

Q : Buat apa sih kuliah?

A : Mencari ilmu.

Rasanya sedikit engap dengan jawaban “Mencari ilmu” karena pada realitanya ilmu bisa darimana saja sumbernya, kenyataan bahwa mahasiswa mengerjakan tugasnya juga hasil copy paste dari mbah google. Lalu apa bedanya dengan yang nggak kuliah?

Aku memandang kegiatan kuliah itu sebagai wadah, lingkungan, dan fasilitas. Orang yang berkuliah punya akses untuk mendukung keingintahuannya terhadap suatu hal. Misalnya laboratorium, studio dan lain-lain. Contohnya semua orang bisa mempelajari ilmu informatika dengan otodidak. Namun seseorang yang tidak berkuliah mungkin akan lebih sulit mempelajari bagian yang lebih spesifik misalnya, Artificial Intellegence, teknik enkripsi dan istilah-istilah keren lainya.

Nah hubungan Rumah sakit dengan Universitas apa sih??

Q : Kenapa repot-repot berobat ke Singapore padahal kan di Indonesia ada Rumah sakit juga?

A : Fasilitas atau alat di RS Indonesia tidak memadahi.

Sama halnya dengan Universitas. Mungkin alasan beberapa orang yang sedang menjelajahi dan menjajal berbagai PTN adalah fasilitasnya.

Seperti jawaban salah satu temanku ini :

Kepuasan? Kata kepuasan itu mungkin cenderung ambigu. Tapi aku artikan kepuasan dia itu adalah ‘kepuasan akan ilmu pengetahuan’. Anggap saja dia tidak bisa dapat fasilitas tertentu di UGM dan ITB, kemudian berharap mendapatkan fasilitas yang diinginkan tersebut di UI.

Q : Apa kampus ternama bisa menjamin kualitas kognitif dan Integritas mahasiswanya ya?

Ya itu sebenarnya balik ke pribadi masing masing sih. Fokus di pendidikan era 4.0,  bukan lagi mengenai apa yang dipelajari, melainkan bagaimana caranya belajar. Makanya kalo kuliah jangan berkutat pada what dan how tapi juga why dan why not.

“Life is like a wheel. Sooner or later, it always come around to where you started again.”

Stephen King

Dalam hidup kadang kita berada di atas dan kadang berada di bawah. Saat berada di bawah rasanya semua menjadi sulit, seolah olah kita kehilangan semuanya. Kekuatan, kesabaran, kegigihan, kesehatan.  Dan dimasa sulit, lumrah sekali rasanya kita memiliki kelemahan. Merasa hal itu sangat mengganggu, sangat merugikan. Contohnya di tengah kegiatan, migrain selalu menyerang dan tiap kali datang menyusahkan orang-orang di sekitarku. Kata “penyakitan” rasanya berkali-kali berdengung di telingaku. Mempunyai kelemahan sangat menyedihkan bukan?

Tapi kata orang, dengan kelemahan ini aku jadi punya tempat spesial. Ya, aku tidak diijinkan melakukan pekerjaan berat. Mereka iri aku berdiam diri saat mereka semua bersusah payah. Itu kan privilege?

Kasusnya sama dengan orang yang ngaku mental illness untuk membenarkan perilaku tidak benarnya kepada orang lain. 

Sama halnya dengan kemiskinan.

Kemiskinan adalah keadaan saat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. (Sumber : Wikipedia)

Ketidakmampuan adalah kelemahan bukan?

Apalagi di masa pandemi sekarang ini, banyak masyarakat yang ekonominya terdampak oleh pandemi Covid-19. Bisa bayangkan bagaimana nasib pendapatan ibu kantin pasca ditutupnya sekolah selama pandemi covid 19? Ribuan bahkan lebih pekerja yang di-PHK karena pemangkasan pengeluaran perusahaan.

Di tengah gonjang-ganjing krisis ekonomi ini pemerintah bertindak cepat untuk mengajukan bantuan kepada masyarakat yang ekonominya terdampak oleh pandemi ini. Mulai dari bantuan sembako, uang, dan bahkan beberapa instansi pendidikan juga meringankan beban biayanya. Udara segar bagi masyarakat yang kesulitan bukan?

Eitsss…. Tunggu, tidak semudah itu ferguso.

Q = Bagaimana ya cara agar bantuan itu diterima tepat sesuai sasaran?

A = Kan sekarang sudah ada program pemerintah untuk masyarakat yang kurang mampu, contohnya SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Jadi yang punya SKTM diprioritaskan.

Q = Bagaimana menilai orang yang tepat untuk mendapatkan SKTM? Dan bagaimana definisi kemiskinan/tidak mampu?

Tentu hal itu akan jadi daftar panjang bukan?? Tapi kalau kamu kepo nih, bisa cek disini untuk syarat mendapat SKTM dan definisi kemiskinan.

Banyak sekali aku menemukan orang dengan rumah dan finansial yang bisa dikatakan berkecukupan bahkan masih bisa nih nongki-nongki di café, beli baju di mall, dan makan di Hoka-hoka bento. Tapi orang ini memiliki SKTM. Kenapa ya?

Hal pertama yang terpikir di kepalaku yaitu, mungkin orang ini bikin SKTM saat hidupnya susah. Dan kebetulan sekarang sudah mapan karena ekonomi kan bisa naik dan turun, tidak melulu stagnan. Tapi, kalau kamu pikir-pikir lagi nih. Orang yang hidupnya sudah berkecukupan apakah boleh ya tetap menggunakan SKTM-nya?

Sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup rasanya jadi pembenaran banyaknya kasus dana bantuan yang salah sasaran. Ada badan yang lagi bagi-bagi sembako, ikut. Ada yang memberi potongan harga untuk pendidikan, ikut.

Q = Kenapa sih kamu ndaftar bantuan juga? Padahal kan kamu masih mampu.

A = Daftar aja sih, nanti kalo dapet kan lumayan. Bisa mengurangi beban.

Hey bambang, bantuan tujuannya untuk orang yang kesulitan ya. Bukan untuk iseng-iseng berhadiah. Jangan samakan bantuan sama giveaway. Kalau hidupmu sudah merasa berkecukupan, pikirkan orang lain yang kurang mampu yang mungkin lebih butuh bantuan itu dibanding kamu. Biasakan melihat kebawah.

Punya hidup struggle kadang juga patut dibangga-banggakan ketika seseorang sudah sukses. Misalnya : “Dulu tuh aku makan mi instan setiap hari saking gaada duitnya.” Lebih wow kan? Orang yang dulu makan mi instan setiap hari akan lebih diberi respect ketika sukses daripada orang yang dari kecil sudah sultan.

Secara tidak langsung, ketidakmampuan ini kan jadi privilege buat dapat uang lebih (bagi orang yang tidak bertanggung jawab). Yaah kalau dipikir-pikir siapa sih yang nggak mau diskon? Mungkin anggapan oknum ini, mengaku miskin mungkin bisa mendapat diskon untuk keperluan hidupnya. Sayangnya Kopi janji jiwa belum bisa nih kasi diskon bagi pemilik SKTM supaya bisa terlihat edgy dengan harga terjangkau, hehe bercanda.

Membantu orang lain tidak harus kaya, tidak harus punya uang lebih. Kalau kamu nggak punya apapun untuk diberikan ke orang lain, kamu tetap bisa membantu kok. Cukup sisihkan tempat bagi orang yang benar-benar membutuhkan supaya mereka hidupnya lebih terbantu dan hidup berdampingan dengan kita.


Kaum kaum yang ngebet banget nikah ayo kumpul dulu . . .

Pernah dengar quote “Menikah dengan pasangan berarti menikahi seluruh keluarganya?” apa itu benar? Sebentar sebentar, sebelum terlalu jauh ku bahas dulu ya apa itu pernikahan.

Pernikahan adalah suatu peristiwa yang secara formal mempertemukan sepasang mempelai atau sepasang calon suami-istri di hadapan penghulu atau kepala agama tertentu, para saksi, dan sejumlah hadirin untuk kemudian disahkan secara resmi sebagai suami-istri dengan upacara-upacara atau ritual-ritual tertentu. Oleh karena itu, pernikahan menjadi sebuah perlambang yang sejak dulu dibatasi atau dijaga oleh berbagai ketentuan adat dan dibentengi oleh kekuatan hukum adat maupun kekuatan hukum agama. Dari sini sudah terlihat bahwa pernikahan adalah hal yang sangat kompleks dan personal.

Untuk melalui sebuah pernikahan dibutuhkan pasangan atau partner hidup. Dalam hal ini terkadang Orangtua / keluarga juga tanpa ragu memilihkan pasangan untuk anaknya. Dalam pandangan keluarga yang konservatif hal ini tentu sah sah saja. Hal ini melekat di budaya Indonesia atau budaya ketimuran. Memilih bibit, bebet, bobotnya. Kadang orang tua tak segan untuk menanyakan weton pasangan si anak untuk sekedar mencari kecocokan.

Tapi, apakah boleh orang tua atau keluarga bertindak sejauh itu?

---Orang tua selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya---

Sejak kecil kita selalu di arahkan ini itu, bahkan di doktrin (dogma). Tentu, demi kebaikan kita. Tapi jika sejak kecil semuanya sudah ditentukan tanpa diberi kesempatan memilih apakah ini baik? Bagaimana pengaruhnya jika anak sudah dewasa?

Setelah dewasa anak ini tidak memiliki jiwa. Orang yang pintar bukan berarti bahagia apabila jiwanya kosong. Karena sejak kecil ia terbiasa meng-iya-kan segalanya, selalu menerima, tidak pernah mempertanyakan, dan selalu berpasrah.

Ketika tiba waktunya memilih pasangan, semua kemampuannya harus sesuai dengan standar orang tua dan keluarga. Harus orang yang baik baik, bisa memasak, kalem, punya pekerjaan tetap dan lain lain, kadang secara tidak sadar juga memberi standar mengenai bentuk fisik. Padahal hal itu kadang justru bertentangan dengan standarmu sendiri. Kadang juga timbul rasa kesal, pasangan kita harus menjilat demi memvalidasi kemampuannya kepada keluarga kita. Atau bahkan aku dan kamu yang harus menjilat di keluarganya. Semuanya terasa terpaksa bukan?

Setelah dewasa masalah kita bukan lagi kuasa dari orang tua kita, apalagi ini dalam fase penikahan. Sehingga kita bisa lari dan mengadu tentang kekurangan pasangan kita. Lalu siapa yang bertangung jawab? Apakah orang tua dan keluarga bertanggung jawab mengenai keharmonisan keluargamu? Atau bahkan masalah personal seperti urusan ranjang? Tentu saja tidak.

Setelah kamu menemukan orang sesuai dengan standar keluargamu, apakah lantas membuatmu bahagia? Atau hanya membuat keluargamu bahagia? Ketika kamu berada di fase ini coba tanyakan pada dirimu sendiri. Apa tujuanmu menikah? Kenapa menikah lebih baik daripada sendiri? Apakah dengan menikah kamu menjadi lebih dewasa dan memahami hidupmu?

Menurutku pasangan tidak harus selalu lebih baik, dalam segi apapun. Selama bisa berbenah bersama. Menikah adalah proses dalam hidup dan juga penyempurna agama. Namun pernikahan bukanlah formalitas. Ketika semua teman seumuranmu menikah lantas kamu harus menikah pada saat itu juga. Pada akhirnya kamu sendiri yang harus bertanggung jawab, menyesuaikan sendiri dengan pasanganmu, tanpa ada campur tangan atau bisikan dari siapapun.


Istilah New normal saat ini sangat mudah ditemui masyarakat dalam berbagai platform media. Untuk memulai, terlebih dulu saya uraikan apa itu New Normal.
    New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19 (Kompas.com - 20/05/2020).

    Menurut sudut pandang saya New Normal dengan PSBB atau Lockdown memiliki perbedaan, New normal sendiri bukanlah suatu kebijakan, seperti PSBB dan Lockdown. Karena New Normal adalah sebuah situasi yang terjadi melalui sebuah proses, atau lebih tepatnya harus disepakati oleh masyarakat.

    Untuk kebijakan seperti PSBB dan Lockdown tidak membutuhkan kesepakatan masyarakat karena perintah ini datangnya dari pemerintah, jadi masyarakat harus mematuhi kebijakan. Yang mana apabila kebijakan ini tidak dipatuhi sempat ramai pelanggarnya akan dijatuhi pidana.

    Namun di negara kita New normal dibuat seperti sebuah kebijakan. Kebijakan yang “menghaluskan” kata “pelonggaran PSBB”. Hal ini dianggap kebijakan apabila pemerintah sudah mulai mengumumkan ‘tanggal’ berlakunya New Normal. Seolah pintu gerbang kemerdekaan bagi masyarakat yang sudah lama terpenjara di rumah selama PSBB. Kemudian ketakutan saya mulai bertambah. Untuk masyarakat yang
kewaspadaannya kurang, mereka cenderung menganut pemahaman bahwa semuanya ‘sudah normal kembali’.

    Kembali ke poin mematuhi protokol kesehatan. Menurut saya hal ini menambah daftar PR masyarakat yang harus direnungkan di rumah masing-masing. Sama halnya seperti memakai Helm ketika berkendara, masyarakat masih enggan untuk memakai masker. Saya juga berkesempatan melakukan observasi di lingkungan saya, sebagian masyarakat baru memakai masker apabila mereka pergi ke tempat yang ‘mengharuskan’ penggunaan masker. Jadi di kasus ini kesadaran diri masyarakat masih sangatlah rendah, sama halnya seperti menggunakan helm ketika berkendara jauh saja.

    Perlunya sosialisasi bahwa cuci tangan, menggunakan hand sanitizer dan masker bukanlah sekedar formalitas. Seperti halnya menggunakan helm saat berkendara di jalan raya, saat mencuci tangan kita tidak hanya sekedar memenuhi syarat agar bisa masuk ke suatu tempat tapi demi kesehatan kita sendiri.

    Secara sosial disadari bahwa hal ini akan berpengaruh. Pasalnya, ada aturan yang disebutkan dalam protokol kesehatan untuk menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain (physical distancing). Physical distancing hanya sebatas menjaga jarak, terlihat pada saat ketika berada di area publik seperti ketika melakukan antrian di anjungan tunai mandiri (ATM). Seolah olah jarak cukup untuk mengantisipasi penularan. Tanpa mengedepankan sanitasi fasilitas tersebut.

    Contoh 3 orang antre di ATM dengan jarak 1,8 meter. Tapi setelah tiba giliran mereka. Mereka masuk ke bilik satu persatu, memegang gagang pintu, menekan tombol pada atm tanpa melakukan sanitasi terlebih dahulu. Ya, physical distancing bukan hanya tentang jarak. Pemikiran ini lah yang harus ditanamkan untuk menghadapi New Normal.
    
    
    Banyak sekali hal yang harus disiapkan untuk menghadapi New Normal, yang akan saya sampaikan sayangnya bukan mengenai apa saja yang harus dibawa saat beraktifitas diluar ketika new normal. Karena saya rasa masyarakat sudah tahu apa saja yang harus dipersiapkan seperti masker, handsanitizer dan lain-lain.

    Tidak sedikit pula pendapat yang datang bahwa berpikir positif pada saat pandemic ini sangatlah mempengaruhi imunitas kita. Banyak yang setuju dan beranggapan bahwa berpikir posistif dapat mengurangi stress yang negatif, maka secara tidak langsung kita lebih sungkar terpapar covid-19, hanya dengan berpikir posistif. Entah kenapa saya selalu berpikir berkali-kali untuk meng-iya kan pendapat tersebut. Menurut saya berpikir positif ada tempat dan batasnya. Sekedar berpikir positif saja tidak cukup. Karena berpikir positif terus-menerus tanpa memikirkan tempat dan batas justru berbahaya karena dapat menurunkan kewaspadaan. Menurut saya hal yang di anjurkan bukan lah berpikir positif, tapi cukup berpikir rasional. Saat yang berpikir positif yang menurunkan kewaspadaan itu artinya bukanlah berpikir positif tapi lebih ke Toxic Positivity.

    Nafsu tatanan New Normal menurut saya tidak perlu di nanti-nanti apalagi dengan euphoria, mengingat angka kasus positif covid-19 terus bertambah. Demikian opini yang saya tulis, apabila ada kesalahan kata atau penulisan saya mohon maaf.

    Kurikulum yang diterapkan di Indonesia pasti berkembang dari tahun ke tahun. dan kurikulum yang diterapkan tersebut pastinya tidak luput dari beragam kelebihan dan kekurangan. Didukung dengan efek globalisasi saat ini juga mempengaruhi kurikulum dan cara belajar pada pelajar.

    Keresahan saya adalah menenai kegiatan belajar mengajar yang sebenarnya sudah tergeser fungsinya. Ilmu tidak lagi penting dalam proses belajar mengajar, karena sistem mengajar yang dianggap membosankan.

    Kurikulum yang saat ini berlaku di Indonesia yakni K-13 yang menuntut siswanya lebih aktif. Namun penerapannya masih kurang maksimal. Setiap minggu beberapa anak diharuskan presentasi guna memaparkan materi yang telah mereka rangkum. Kemudian setelah pemaparan dibuka sesi tanya jawab.

    Nahh, disinilah letak keresahan saya. Ketika sesi tanya jawab ada beberapa tipe yang bisa disebut kecurangan yaitu,

1.     Siswa yang menanyakan kembali materi yang sudah di jelaskan.

Artinya selama proses presentasi siswa tersebut tidak mendengarkan pemapar materi, kemudian bertanya hanya untuk kepentingan MENCARI NILAI HARIAN

2.    Siswa yang pertanyaannya kurang bermutu.

Ada alasan kenapa saya menyebut pertanyaan tersebut kurang bermutu, sebab pertanyaan yang dilontarkan oleh siswa tersebut dapat dicari sendiri jawabannya. Contoh pertanyaan yang bersifat kurang bermutu adalah pertanyaan yang menanyakan mengenai definisi, ciri-ciri, sebab akibat dan lain-lain.

3.    Siswa yang sudah menyiapkan pertanyaan beserta jawabannya kepada pemapar materi.

Nah, ini juga sering terjadi, kenapa siswa melakukan hal ini? Jawabannya sudah pasti proses ini disebut simbiosis mutualisme. Sebab sang audience dapat bertanya dan mendapat nilai sedangkan si pemapar materi dapat menjawab pertanyaan dengan lancar.

 

Dengan adanya 3 kecurangan tersebut, tentu saja ada pihak yang dirugikan, yaitu siswa yang benar-benar serius ingin mendapatkan ilmu.

Terbayang tidak? Dalam suatu sesi tanya jawab yang telah dibatasi slot untuk bertanya. Semua slot sudah terisi dengan pertanyaan seperti 3 jenis yang sudah saya jelaskan diatas. Maka siswa yang benar benar tidak paham dengan materi atau siswa yang memiliki pertanyaan krusial tidak dapat menanyakan apa yang mereka tidak mengerti. Dan tentu saja jawabannya tidak dapat mereka temukan di Internet. Karena siswa yang seperti ini biasanya melakukan research terlebih dahulu, apabila data yang mereka cari tidak ada barulah mereka tanyakan kepada pemapar materi.

Lalu apa dampak negative 3 kecurangan diatas bagi pemapar materi?

Tentu saja pemapar materi akan sulit berkembang, karena pertanyaan yang mereka terima juga sebenarnya pertanyaan yang tidak berkembang.

Sudah saatnya tenaga pengajar melek dengan hal ini. Atau lebih mengasah bagaimana cara berpikir kritis kepada siswa siswanya. Sehingga dapat berdampak kepada mindset siswa, bahwa banyak sekali jawaban yang tidak bisa di temukan di dalam internet dan sudah seharusnya siswa diajarkan cara diskusi yang baik agar memudahkan langkahnya ketika menginjak bangku Perguruan tinggi.

ADIL ATAU TIDAK?

KITA TIDAK PAHAM DENGAN MATERINYA TAPI TIDAK BISA BERTANYA KARENA SLOT BERTANYA SUDAH TERISI PENUH DENGAN ORANG YANG CARI NILAI.

 


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

HAI SELAMAT DATANG

Hai... Aku suka banget bahas hal hal yang lagi terjadi, entah itu isu sosial atau yang lainnya, yang kebetulan nggak kuat ku tampung di otak karena takut lupa hehe.

FOLLOW ME

POPULAR POSTS

  • Kenapa Kita Harus Contoh Yang Baiknya Aja Dari Orang Tua Kita?
  • Halo Dek ...

Categories

  • #guruBK 6
  • Budaya 6
  • Psikologi 5

Advertisement

Hanamizuki.id

Sampai Jumpa

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates